PENGKAJIAN LANSIA SEBAGAI
INDIVIDU
A. Pola Persepsi kesehatan dan
Pemeliharaan kesehatan
1. Untuk lanjut usia yang masih aktif, asuhan keperawatan dapat
berupa dukungan tentang personal hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau
pembersihan gigi palsu: kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku,
mata serta telinga: kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan :
makanan yang sesuai, misalnya porsi kecil bergizi, bervariai dan mudah dicerna,
dan kesegaran jasmani.
2. Untuk lanjut usia yang mengalami pasif, yang tergantung pada
orang lain. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan
pada lanjut usia pasif pada dasarnya sama seperti pada lanjut usia aktif,
dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas. Khususnya bagi yang
lumpuh, perlu dicegah agar tidak terjadi dekubitus (lecet).
B. Pola Nutrisi – metabolic
1) Pengukuran Antropometri
Indeks Massa
Tubuh (IMT) merupakan salah satu pengukuran antropometri yang bnyak dilakukan
untuk mengevaluasi status gizi lansia. IMT yang rendah berhubungan dengan
penurunan kemampuan fungsional dan peningkatan mortilitas pada lansia. Berbagai
pengukuranb lain seperti tebal lemak bawah kulit (pengukuran skinfold)
juga dapat dipakai untuk penentuan status gizi lansia.
2) Pemeriksaan Laboratorium
Protein
Pengukuran
simpanan protein tubuh seperti serum albumin, transferin dan total
iron binding capacity (TIBC) sering
dipakai untuk mengukur status gizi lansia. Hipoalbumin merupakan predictor yang
baik untuk defisiensi protein pada lansia. Namun, albumin banyak terpengaruh
pada status hidrasi, fungsi hati dan adanya penyakit ginjal atau saluran cerna
pada lansia yang menyebabkan kehlangan protein. Sehingga, penentuan status gizi
pada lansia dengan menggunakan serum albumin harus dilakukan setelah
faktor-faktor lain disingkirkan. Waktu paruh albumin yang panjang (14-20 hari)
menjelaskan mengapa serum albumin bereaksi lambat terhadap terapi.
Kolesterol
Serum
kolesterol yang rendah pada lansia juga merupakan indicator status gizi yang
kurang pada lansia.
3)
Assessmen Diet
Metoda
pengukuran asupan gizi pada lansia yang tepat sangat sulit karena keterbatasan
fisik dan psilogis dari lansia. Food
Frequency Questionnaire (FFQ)
yang sederhana dapat digunakan untuk menilai asupan gizi lansia. Pada lansia
yang mampu menulis dapat digunakan 3-day
record, dimana dengan metoda ini seorang lansia diminta menuliskan apa
saja yang dikonsumsi dalam 3 hari (2 hari biasa dan 1 hari libur). Recall 24
jam juga sering dipakai untuk menilai status gizi lansia. Namun, karena
keterbatasan fungsi ingatan pada lansia, metoda ini dianggap kurang sahih.
C. Pola Eliminasi
1)
Makroskopis
Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah, warna, bau,
darah, lendir dan parasit. Feses untuk pemeriksaan sebaiknya yang berasal dari
defekasi spontan. Jika pemeriksaan sangat diperlukan, maka sampel tinja di
ambil dengan menggunakan jari bersarung dari rectum. Untuk pemeriksaan biasa
digunakan tinja sewaktu, jarang diperlukan tinja 24 jam untuk pemeriksaan
tertentu. Tinja hendaknya diperiksa dalam keadaan segar, kalau dibiarkan
mungkin sekali unsur-unsur dalam tinja itu menjadi rusak.
2)
Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa, telur cacing,
leukosit, eritosit, sel epitel, kristal, makrofag dan sel ragi. Dari semua
pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur
cacing.
D. Pola Aktivitas – Latihan
E. Pola Istirahat – Tidur
1) Penyakit
Seseorang yang
mengalami sakit memrlukan waku tidur lebih banyak dari normal. Namaun demikian
, keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur. Misalnya
pada pasien dengan gagguan pernapasan seperti asma, bronkitis, penyakit
kardiosvaskular,dan pnyakit persarafan.
2) Lingkungan
Pasien yang biasanya tidur dalam lingkungan tenang dan
nyaman, kemudian terjadi perubahan suasana seperti gaduh maka akan menghambat
tidurnya.
3) Motivasi
Motivasi dapat
mempengaruhi tidur dan dapat menimbulkan keinginan untuk tetap bangun dan
waspada menahan kantuk.
4) Kelelahan
Kelelahan
dapat memperpendek periode pertama dari tahap REM.
5) Kecemasan
Pada keadaan cemas
seorang mungkin meningkatkan saraf simpatis sehingga mengganggu tidurnya.
6) Alkohol
Alkohol menekan REM
secara normal,seseorang yang tahan minum alkohol dapat mengakibatkan insomania
dan lekasa marah.
7) Obat-obatan
Beberapa
jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidut antara lain:
a) Diuretik
: menyebabkan insomnia
b) Antidepresan
: menyupresi REM
c) Kafein
: meningkatkan saraf simpais
d) Beta-bloker
: menimbulkan insomnia
e) Narkotika
: menyupresi REM
8) Nutrisi
Makanan yang banyak
mengandung L-Triptofan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna
seperti keju,susu,daging dan ikan tuna dapat mampercepat terjadinya ptoses.
9) Insomnia
Pengertian insomnia
mencakup banyak hal. Insomnia dapat berupa kesulitan untuk tidur ataukesulitan
untuk tetap tidur, bahkan seseoranng yang terbangun dari tidur tapi merasa
belumcukup tidur dapat di sebut mengalami insomnia (japardi 2002). Jadi
insomnia merupakan ketidak mampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur baik
secara kualitas maupun kuantitas. Insomnia bukan berarti seseorang tidak
dapat tidur/kurang tidur karena orang yang menderita insomniasering dapat tidur
lebih lama dari yang mereka pikirkan, tetapi kualitasnya berkurang.Jenis
insomnia yaitu :
Ø Insomnia insial adalah ketidakmampuan
seseorang untuk dapat memulai tidur.
Ø insomnia intermiten adalah
ketidakmampuan seseorang untuk dapat mempertahankan tidur atau keadaan
sering terjaga dari tidur.
Ø insomnia terminal adalah bangun
secara dini dan tidak dapat tidur lagi. Beberapa factor yang menyebabkan
seseorang mengalami insomnia yaitu rasa nyeri, kecemasan,ketakutan, tekanan
jiwa kondisi, dan kondisi yang tidak menunjang untuk tidur.
10) Somnambulisme
Merupakan gangguan
tingkah laku yang sangat kompleks mencakup adanya otomatis dan semipurposeful
aksi motorik, seperti membuka pintu, duduk di tempat tidur,
menabrak kursi,berjalan kaki dan berbicara. Termasuk tingkah laku berjalan
dalam beberapa menit dankembali tidur (Japardi 2002). Lebih banyak terjadi pada
anak-anak, penderita mempunyai resikoterjadinya cidera.
11) Enuresis
Enuresis adalah
kencing yang tidak di sengaja (mengompol) terjadi pada anak-anak, remaja
dan paling banyak pada laki-laki, penyebab secara pasti belum jelas, namun
ada bebrapa faktor yangmenyebabkan Enuresis seperti gangguan pada bladder,
stres, dan toilet training yang kaku.
12) Narkolepsi
Merupakan suatu
kondisi yang di cirikan oleh keinginan yang tak terkendali untuk tidur, dapat
dikatakan pula bahwa Narkolepsi serangan mengantuk yang mendadak sehingga ia
dapat tertidur pada setiap saat di mana serangn mengantuk tersebut
datang. Penyebabnya secara pasti belum jelas, tetapi di duga terjadi akibat
kerusakan genetika sistem saraf pusat di mana periode REM tidak dapat di
kendalikan. Serangan narkolepsi dapat menimbulkan bahaya bila terjadi pada
waktu mengendarai kendaraan, pekerja yang bekerja pada alat-alat yang
berputar-putar atau berada di tepi jurang.
13) Mendengkur
Disebabkan oleh
adanya rintangan terhadap pengaliran udara di hidung dan mulut. Amandelyang
membengkak dan Adenoid dapat menjadi faktor yang turut menyebabkan
mendengkur.Pangkal lidah yang menyumbat saluran nafas pada lansia. Otot-otot
dibagian belakang mulut mengendur lalu bergetar bila dilewati udara pernafasan.
F. Pola Kognitif – Perseptual
Teknik pemakaian dan penilaian
MMSE (mini mental state examination)
MMSE menggunakan instrumen
berbentuk berbagai pertanyaan. Daftar pertanyaan terdapat pada gambar 1. Cara
penggunaannya adalah sebagai berikut :
Penilaian Orientasi (10 poin)
Pemeriksa menanyakan tanggal,
kemudian pertanyaan dapat lebih spesifik jika ada bagian yang lupa (misalnya
:”Dapatkah anda juga memberitahukan sekarang musim apa?”). Tiap pertanyaan yang
benar mendapatkan 1 (satu) poin. Pertanyaan kemudian diganti dengan ,”Dapatkah
anda menyebutkan nama rumah sakit ini (kota, kabupaten, dll) ?”. Tiap
pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu poin).
Penilaian Registrasi (3 poin).
Pemeriksa menyebutkan 3 nama
benda yang tidak berhubungan dengan jelas dan lambat. Setelah itu pasien
diperintahkan untuk mengulanginya. Jumlah benda yang dapat disebutkan pasien
pada kesempatan pertama dicatat dan diberikan skor (0-3). Jika pasien tidak
dapat menyebutkan ketiga nama benda tersebut pada kesempatan pertama, lanjutkan
dengan mengucapkan namanya sampai pasien dapat mengulang semuanya, sampai 6
kali percobaan. Catat jumlah percobaan yang digunakan pasien untuk
mempelajari kata-kata tersebut. Jika pasien tetap tidak dapat mengulangi ketiga
kata tersebut, berarti pemeriksa harus menguji ingatan pasien tersebut. Setelah
menyelesaikan tugas tersebut, pemeriksa memberitahukan kepada pasien agar
mengingat ketiga kata tersebut, karena akan ditanyakan sebentar lagi.
Perhatian dan kalkulasi (5poin)
Pasien diperintahkan untuk
menghitung mundur dari 100 dengan selisih 7. hentikan setelah 5 angka. Skor
berdasarkan jumlah angka yang benar. Jika pasien tidak dapat atau tidak dapat
mengerjakan tugas tersebut, maka dapat digantikan dengan mengeja kata ”DUNIA”
dari belakang. Cara menilainya adalah menghitung kata yang benar. Contohnya
jika menjawab “AINUD” maka diberi nilai 5, tetapi jika menjawab “AINDU” diberi
nilai 3.
Ingatan (3poin)
Pasien diperintahkan untuk
mengucapkan 3 kata yang diberikan sebelumnya kepada pasien dan disuruh
mengingatnya. Pemberian skor dihitung berdasarkan jumlah jawaban yang benar.
Bahasa dan praktek (9 poin)
Penamaan : Pasien
ditunjukkan arloji dan diminta menyebutkannya. Ulangi dengan menggunakan
pensil. Skor 1 poin setiap nama benda yang benar (0-2).
Repetisi (pengulangan) :
Pasien diminta untuk mengulangi sebuah kalimat yang diucapkan oleh penguji pada
hanya sekali kesempatan. Skor 0 atau 1.
Perintah 3 tahap : pasien
diberikan selembar kertas kosong, dan diperintahkan, ” Taruh kertas ini pada
tangan kanan anda, lipat menjadi 2 bagian, dan taruh di lantai”. Skor 1 poin
diberikan pada setiap perintah yang dapat dikerjakan dengan baik (0-3).
Membaca : Pasien diberikan
kertas yang bertuliskan ”Tutup mata anda” (hurufnya harus cukup besar dan
terbaca jelas oleh pasien. Pasien diminta untuk membaca dan melakukan apa yang
tertulis. Skor 1 diberikan jika pasien dapat melakukan apa yang diperintahkan.
Tes ini bukan penilaian memori, sehingga penguji dapat mendorong pasien dengan
mengatakan ”silakan melakukan apa yang tertulis” setelah pasien membaca kalimat
tersebut.
Menulis : Pasien diberikan
kertas kosong dan diminta menuliskan suatu kalimat. Jangan mendikte
kalimat tersebut, biarkan pasien menulis spontan. Kalimat yang ditulis harus
mengandung subjek, kata kerja dan membentuk suatu kalimat. Tata bahasa dan
tanda baca dapat diabaikan.
Menirukan : pasien
ditunjukkan gambar segilima yang berpotongan, dan diminta untuk menggambarnya
semirip mungkin. Kesepuluh sudut harus ada dan ada 2 sudut yang berpotongan
unruk mendapatkan skor 1 poin. Tremor dan rotasi dapat diabaikan.
Interpretasi
penilaian MMSE
Setelah
dilakukan penilaian, skor dijumlahkan dan didapatkan hasil akhir. Hasil yang
didapatkan diintrepetasikan sebagai dasar diagnosis. Ada beberapa
interpretasi yang bisa digunakan. Metode yang pertama hanya menggunakansingle
cutoff, yaitu abnormalitas fungsi kognitif jika skor <24 .=""
lain="" lang="SV" menggunakan=""
metode="" range.="" span="">Jika skor <21
akan="" demensia="" jika="" kemungkinan=""
meningkat="" sedangkan="" skor="">25 kecil
kemungkinan demensia.
Interpretasi
lainnya memperhitungkan tingkat pendidikan pasien. Pada pasien dengan tingkat
pendidikan rendah (di bawah SMP) ambang batas abnormal diturunkan menjadi 21,
pada tingkat pendidikan setingkat SMA abnormal jika skor <23
abnormal="" jika="" o:p="" pada=""
perguruan="" skor="" tinggi=""
tingkat="">
Berat ringannya
gangguan kognitif dapat diperkirakan dengan MMSE. Skor 24-30 menunjukkan tidak
didapatkan kelainan kognitif. Skor 18-23 menunjukkan kelainan kognitif ringan.
Skor 0-17 menunjukkan kelainan kognitif yang berat.
Tabel 1. Interpretasi
MMSE.
|
Metode
|
Skor
|
Interpretasi
|
|
Single Cutoff
|
<24 p="">
|
Abnormal
|
|
Range
|
<21 p="">
>25
|
Kemungkinan demesia lebih besar
Kemungkinan demesia lebih kecil
|
|
Pendidikan
|
21
<23 p="">
<24 p="">
|
Abnormal pada tingkat
pendidikan kelas 2 SMP
Abnormal pada tingkat
pendidikan SMA
Abnormal pada tingkat
pendidikan Perguruan Tinggi
|
|
Keparahan
|
24-30
18-23
0-17
|
Tidak ada kelainan kognitif
Kelainan kognitif ringan
Kelainan kognitif berat
|
G.
Pola
Persepsi diri - Konsep diri
1)
Gambaran diri ( Body Image )
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap
tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan
tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa
lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap
individu.
2)
Ideal Diri.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang
bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau
penilaian personal tertentu. ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri
yaitu :
Ø
Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas
kemampuannya.
Ø
Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal
diri.
Ø
Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan
yang realistis, keinginan untuk
mengklaim diri dari kegagalan, perasan cemas dan rendah diri.
Ø
Kebutuhan yang realistis.
Ø
Keinginan untuk menghindari kegagalan.
Ø
Perasaan cemas dan rendah diri.
3)
Harga
diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang
dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri. Harga
diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan
diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan
interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia.
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai
perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan
harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau
kronis ( negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama ). Dan dapat di
ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata).
4)
Peran
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang
diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Peran yang
ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran
yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi
dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri.
5)
Identitas
Identitas adalah kesadarn akan diri sendiri yang bersumber
dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep
diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh
Ø
Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu
dapat ditandai dengan:
Memandang dirinya secara unik
Ø
Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain
Ø
Merasakan otonomi : menghargai diri, percaya diri, mampu
diri, menerima dirib dan
Ø
dapat mengontrol diri.
Ø
Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan konsep
diri
KEPRIBADIAN
YANG SEHAT
Bagaiman
individu berhubungan dengan orang lain merupakan inti dari kepribadian
Kepribadian tidak cukup di uarikan melalui teori perkembangan dan dinamika diri
sendiri. Berikut ini adalah pengalaman yang akan dialmi oleh individu yang
mempunyai kepribadian yang sehat
Gambaran diri yang positif dan akurat
Kesadaran akan diri berdasarkan atas observasi
mandiri dan perhatian yang sesuai dengan kesehatan diri. Termasuk persepsi saat
ini dan yang lalu, akan diri sendiri, perasaan tentang ukuran, fungsi,
penampilan dan potensi.
Ideal diri realistis
Individu yang mempunyai ideal diri yang realitas
akan mempuynai tujuan hidup yang dapat dicapai.
Konsep diri positif
Konsep diri positif menunjukkan bahwa individu
akan sukses dalam hidupnya.
Harga diri tinggi.
Seorang yang mempunyai harga diri yang tinggi
akan memandang dirinya sebagai seorang yangberarti dan bermanfaat. Ia memanding
dirinya sangat sama dengan apa yang ia inginkan.
Kepuasan penampilan peran
Indiviu yang mempunyai kepribadian sehat akan
mendapat berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat kepuasan. Ia
dapat mempercayai dan terbuka pada orang lain dan membina hubungan
interdependen.
Identitas jelas.
Individu merasakan keunikan dirinya, yang
memberi arah kehidupan dan mecapai keadaan
H. Pola Peran – Hubungan
Subyektif:
1) Apakah lansia mengikuti
organisasi kemasyarakatan atau kegiatan sosial lainnya?
2) Bagaimana interaksi lansia dalam
keluarga dan lingkungannya?
3) Apakah ada perubahan peran akibat
proses penuaan?
4) Bagaimana sikap klien dengan
kehilangan orang yang disayangi?
5) Apakah klien mengalami kesulitan
dalam berbicara atau berkomunikasi?
6) Apakah ada ketegangan dengan
orang di sekitar lansia?
Obyektif:
Observasi interaksi antara
anggota keluarga atau dengan lingkungan sekitar
I.
Pola
Seksual – Reproduksi
1) Adakah perubahan fisiologis yang
berdampak terhadap seksualitas lansia?
2) Kapan lansia mengalami menopause?
Keluhan apa yang dirasakan setelah mengalami menopause?
3) Apa upaya yang dilakukan untuk
mengatasi masalah akibat menopause?
4) Masihkah ada minat dalam
melakukan hubungan intim dengan pasangan? Bagaimana dengan frekuensi dan adakah
kesulitan?
5) Adakah keluhan dengan prostat
atau hernia?
J. Pola Kooping – Toleransi Stress
Subyektif:
1) Bagaimana status emosi lansia?
2) Adakah masalah/stress psikologis
akhir-akhir ini seperti: depresi, kehilangan, pasangan hidup, minder, dan
lain-lain?
3) Bagaimana upaya pengelolaan
stress? Apakah upaya tersebut membantu lansia mengatasi masalahnya?
4) Bagaimana lansia memproyeksikan
stressor yang terjadi?
5) Apakah lansia dapat menerima
status kesehatannya?
6) Adakah pengalaman yang traumatik
pada lansia?
Obyektif:
Catat perilaku atau manifestasi
psikologis dari mood, afek, kecemasan, dan stress
K. Pola Nilai – Kepercayaan
Pada
waktu inilah kelahiran seorang iman sangat perlu untuk melapangkan dada klien
lanjut usia. Dengan demikian pendekatan perawat pada klien lanjut usia bukan
hanya terhadap fisik saja, melainkan perawat lebih dituntut menemukan pribadi
klien lanjut usia melalui agama mereka. Mengingatkan klien lansia apakah sudah
beribadah, bagaimana perasaan lansia setelah beribadah, melakukan hal-hal yang
berhubungan dengan beribadah lainnya (berdoa, pergi ketempat beribadah,
berpuasa, berdoa bersama atau pengajian, membaca kitab suci atau al’quran dan
lain-lain).