Minggu, 03 Mei 2015

PENGKAJIAN LANSIA SEBAGAI INDIVIDU

A.     Pola Persepsi kesehatan dan Pemeliharaan kesehatan
1.      Untuk lanjut usia yang masih aktif, asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu: kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga: kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan : makanan yang sesuai, misalnya porsi kecil bergizi, bervariai dan mudah dicerna, dan kesegaran jasmani.
2.      Untuk lanjut usia yang mengalami pasif, yang tergantung pada orang lain. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada dasarnya sama seperti pada lanjut usia aktif, dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas. Khususnya bagi yang lumpuh, perlu dicegah agar tidak terjadi dekubitus (lecet).

B.     Pola Nutrisi – metabolic
1)      Pengukuran Antropometri
Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu pengukuran antropometri yang bnyak dilakukan untuk mengevaluasi status gizi lansia. IMT yang rendah berhubungan dengan penurunan kemampuan fungsional dan peningkatan mortilitas pada lansia. Berbagai pengukuranb lain seperti tebal lemak bawah kulit (pengukuran skinfold) juga dapat dipakai untuk penentuan status gizi lansia.
2)      Pemeriksaan Laboratorium
Protein
Pengukuran simpanan protein tubuh seperti serum albumin, transferin dan total iron binding capacity (TIBC) sering dipakai untuk mengukur status gizi lansia. Hipoalbumin merupakan predictor yang baik untuk defisiensi protein pada lansia. Namun, albumin banyak terpengaruh pada status hidrasi, fungsi hati dan adanya penyakit ginjal atau saluran cerna pada lansia yang menyebabkan kehlangan protein. Sehingga, penentuan status gizi pada lansia dengan menggunakan serum albumin harus dilakukan setelah faktor-faktor lain disingkirkan. Waktu paruh albumin yang panjang (14-20 hari) menjelaskan mengapa serum albumin bereaksi lambat terhadap terapi.
Kolesterol
Serum kolesterol yang rendah pada lansia juga merupakan indicator status gizi yang kurang pada lansia.
3)      Assessmen Diet
Metoda pengukuran asupan gizi pada lansia yang tepat sangat sulit karena keterbatasan fisik dan psilogis dari lansia. Food Frequency Questionnaire (FFQ) yang sederhana dapat digunakan untuk menilai asupan gizi lansia. Pada lansia yang mampu menulis dapat digunakan 3-day record, dimana dengan metoda ini seorang lansia diminta menuliskan apa saja yang dikonsumsi dalam 3 hari (2 hari biasa dan 1 hari libur). Recall 24 jam juga sering dipakai untuk menilai status gizi lansia. Namun, karena keterbatasan fungsi ingatan pada lansia, metoda ini dianggap kurang sahih.

C.     Pola Eliminasi
1)      Makroskopis
Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah, warna, bau, darah, lendir dan parasit. Feses untuk pemeriksaan sebaiknya yang berasal dari defekasi spontan. Jika pemeriksaan sangat diperlukan, maka sampel tinja di ambil dengan menggunakan jari bersarung dari rectum. Untuk pemeriksaan biasa digunakan tinja sewaktu, jarang diperlukan tinja 24 jam untuk pemeriksaan tertentu. Tinja hendaknya diperiksa dalam keadaan segar, kalau dibiarkan mungkin sekali unsur-unsur dalam tinja itu menjadi rusak.
2)      Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa, telur cacing, leukosit, eritosit, sel epitel, kristal, makrofag dan sel ragi. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing.
D.     Pola Aktivitas – Latihan





E.      Pola Istirahat – Tidur
1)      Penyakit
Seseorang yang mengalami sakit memrlukan waku tidur lebih banyak dari normal. Namaun demikian , keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur. Misalnya pada pasien dengan gagguan pernapasan seperti asma, bronkitis, penyakit kardiosvaskular,dan pnyakit persarafan.
2)      Lingkungan
Pasien yang biasanya tidur dalam lingkungan tenang dan nyaman, kemudian terjadi perubahan suasana seperti gaduh maka akan menghambat tidurnya.
3)      Motivasi
Motivasi dapat mempengaruhi tidur dan dapat menimbulkan keinginan untuk tetap bangun dan waspada menahan kantuk.
4)      Kelelahan
Kelelahan dapat memperpendek periode pertama dari tahap REM.
5)      Kecemasan
Pada keadaan cemas seorang mungkin meningkatkan saraf simpatis sehingga mengganggu tidurnya.
6)      Alkohol
Alkohol menekan REM secara normal,seseorang yang tahan minum alkohol dapat mengakibatkan insomania dan lekasa marah.
7)      Obat-obatan
Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidut antara lain:
a)      Diuretik          : menyebabkan insomnia
b)      Antidepresan   : menyupresi REM
c)      Kafein            : meningkatkan saraf simpais
d)     Beta-bloker     : menimbulkan insomnia
e)      Narkotika       : menyupresi REM
8)      Nutrisi
Makanan yang banyak mengandung L-Triptofan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna seperti keju,susu,daging dan ikan tuna dapat mampercepat terjadinya ptoses.
9)      Insomnia
Pengertian insomnia mencakup banyak hal. Insomnia dapat berupa kesulitan untuk tidur ataukesulitan untuk tetap tidur, bahkan seseoranng yang terbangun dari tidur tapi merasa belumcukup tidur dapat di sebut mengalami insomnia (japardi 2002). Jadi insomnia merupakan ketidak mampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur baik secara kualitas maupun kuantitas. Insomnia bukan berarti seseorang tidak dapat tidur/kurang tidur karena orang yang menderita insomniasering dapat tidur lebih lama dari yang mereka pikirkan, tetapi kualitasnya berkurang.Jenis insomnia yaitu :
Ø  Insomnia insial adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat memulai tidur.
Ø  insomnia intermiten adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat mempertahankan tidur atau keadaan sering terjaga dari tidur.
Ø  insomnia terminal adalah bangun secara dini dan tidak dapat tidur lagi. Beberapa factor yang menyebabkan seseorang mengalami insomnia yaitu rasa nyeri, kecemasan,ketakutan, tekanan jiwa kondisi, dan kondisi yang tidak menunjang untuk tidur.
10)  Somnambulisme
Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat kompleks mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, duduk di tempat tidur, menabrak kursi,berjalan kaki dan berbicara. Termasuk tingkah laku berjalan dalam beberapa menit dankembali tidur (Japardi 2002). Lebih banyak terjadi pada anak-anak, penderita mempunyai resikoterjadinya cidera.
11)  Enuresis
Enuresis adalah kencing yang tidak di sengaja (mengompol) terjadi pada anak-anak, remaja dan paling banyak pada laki-laki, penyebab secara pasti belum jelas, namun ada bebrapa faktor yangmenyebabkan Enuresis seperti gangguan pada bladder, stres, dan toilet training yang kaku.
12)  Narkolepsi
Merupakan suatu kondisi yang di cirikan oleh keinginan yang tak terkendali untuk tidur, dapat dikatakan pula bahwa Narkolepsi serangan mengantuk yang mendadak sehingga ia dapat tertidur  pada setiap saat di mana serangn mengantuk tersebut datang. Penyebabnya secara pasti belum jelas, tetapi di duga terjadi akibat kerusakan genetika sistem saraf pusat di mana periode REM tidak dapat di kendalikan. Serangan narkolepsi dapat menimbulkan bahaya bila terjadi pada waktu mengendarai kendaraan, pekerja yang bekerja pada alat-alat yang berputar-putar atau berada di tepi jurang.
13)  Mendengkur
Disebabkan oleh adanya rintangan terhadap pengaliran udara di hidung dan mulut. Amandelyang membengkak dan Adenoid dapat menjadi faktor yang turut menyebabkan mendengkur.Pangkal lidah yang menyumbat saluran nafas pada lansia. Otot-otot dibagian belakang mulut mengendur lalu bergetar bila dilewati udara pernafasan.

F.      Pola Kognitif – Perseptual

Teknik pemakaian dan penilaian MMSE (mini mental state examination)
MMSE menggunakan instrumen berbentuk berbagai pertanyaan. Daftar pertanyaan terdapat pada gambar 1. Cara penggunaannya adalah sebagai berikut :
Penilaian Orientasi (10 poin)
Pemeriksa menanyakan tanggal, kemudian pertanyaan dapat lebih spesifik jika ada bagian yang lupa (misalnya :”Dapatkah anda juga memberitahukan sekarang musim apa?”). Tiap pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu) poin. Pertanyaan kemudian diganti dengan ,”Dapatkah anda menyebutkan nama rumah sakit ini (kota, kabupaten, dll) ?”. Tiap pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu poin).

Penilaian Registrasi (3 poin).
Pemeriksa menyebutkan 3 nama benda yang tidak berhubungan dengan jelas dan lambat. Setelah itu pasien diperintahkan untuk mengulanginya. Jumlah benda yang dapat disebutkan pasien pada kesempatan pertama dicatat dan diberikan skor (0-3). Jika pasien tidak dapat menyebutkan ketiga nama benda tersebut pada kesempatan pertama, lanjutkan dengan mengucapkan namanya sampai pasien dapat mengulang semuanya, sampai 6 kali percobaan.  Catat jumlah percobaan yang digunakan pasien untuk mempelajari kata-kata tersebut. Jika pasien tetap tidak dapat mengulangi ketiga kata tersebut, berarti pemeriksa harus menguji ingatan pasien tersebut. Setelah menyelesaikan tugas tersebut, pemeriksa memberitahukan kepada pasien agar mengingat ketiga kata tersebut, karena akan ditanyakan sebentar lagi.

Perhatian dan kalkulasi (5poin)
Pasien diperintahkan untuk menghitung mundur dari 100 dengan selisih 7. hentikan setelah 5 angka. Skor berdasarkan jumlah angka yang benar. Jika pasien tidak dapat atau tidak dapat mengerjakan tugas tersebut, maka dapat digantikan dengan mengeja kata ”DUNIA” dari belakang. Cara menilainya adalah menghitung kata yang benar. Contohnya jika menjawab “AINUD” maka diberi nilai 5, tetapi jika menjawab “AINDU” diberi nilai 3.

Ingatan (3poin)
Pasien diperintahkan untuk mengucapkan 3 kata yang diberikan sebelumnya kepada pasien dan disuruh mengingatnya. Pemberian skor dihitung berdasarkan jumlah jawaban yang benar.

Bahasa dan praktek (9 poin)
Penamaan : Pasien ditunjukkan arloji dan diminta menyebutkannya. Ulangi dengan menggunakan pensil. Skor 1 poin setiap nama benda yang benar (0-2).
Repetisi (pengulangan) : Pasien diminta untuk mengulangi sebuah kalimat yang diucapkan oleh penguji pada hanya sekali kesempatan. Skor 0 atau 1.
Perintah 3 tahap : pasien diberikan selembar kertas kosong, dan diperintahkan, ” Taruh kertas ini pada tangan kanan anda, lipat menjadi 2 bagian, dan taruh di lantai”. Skor 1 poin diberikan pada setiap perintah yang dapat dikerjakan dengan baik (0-3).
Membaca : Pasien diberikan kertas yang bertuliskan ”Tutup mata anda” (hurufnya harus cukup besar dan terbaca jelas oleh pasien. Pasien diminta untuk membaca dan melakukan apa yang tertulis. Skor 1 diberikan jika pasien dapat melakukan apa yang diperintahkan. Tes ini bukan penilaian memori, sehingga penguji dapat mendorong pasien dengan mengatakan ”silakan melakukan apa yang tertulis” setelah pasien membaca kalimat tersebut.
Menulis : Pasien diberikan kertas kosong dan diminta  menuliskan suatu kalimat. Jangan mendikte kalimat tersebut, biarkan pasien menulis spontan. Kalimat yang ditulis harus mengandung subjek, kata kerja dan membentuk suatu kalimat. Tata bahasa dan tanda baca dapat diabaikan.
Menirukan : pasien ditunjukkan gambar segilima yang berpotongan, dan diminta untuk menggambarnya semirip mungkin. Kesepuluh sudut harus ada dan ada 2 sudut yang berpotongan unruk mendapatkan skor 1 poin. Tremor dan rotasi dapat diabaikan.
Interpretasi penilaian MMSE

Setelah dilakukan penilaian, skor dijumlahkan dan didapatkan hasil akhir. Hasil yang didapatkan diintrepetasikan sebagai dasar diagnosis. Ada beberapa interpretasi yang bisa digunakan. Metode yang pertama hanya menggunakansingle cutoff, yaitu abnormalitas fungsi kognitif jika skor <24 .="" lain="" lang="SV" menggunakan="" metode="" range.="" span="">Jika skor <21 akan="" demensia="" jika="" kemungkinan="" meningkat="" sedangkan="" skor="">25 kecil kemungkinan demensia.
Interpretasi lainnya memperhitungkan tingkat pendidikan pasien. Pada pasien dengan tingkat pendidikan rendah (di bawah SMP) ambang batas abnormal diturunkan menjadi 21, pada tingkat pendidikan setingkat SMA abnormal jika skor <23 abnormal="" jika="" o:p="" pada="" perguruan="" skor="" tinggi="" tingkat="">
Berat ringannya gangguan kognitif dapat diperkirakan dengan MMSE. Skor 24-30 menunjukkan tidak didapatkan kelainan kognitif. Skor 18-23 menunjukkan kelainan kognitif ringan. Skor 0-17 menunjukkan kelainan kognitif yang berat. 
Tabel 1. Interpretasi MMSE.

Metode
Skor
Interpretasi
Single Cutoff
<24 p="">
Abnormal
Range
<21 p=""> 
>25
Kemungkinan demesia lebih besar
Kemungkinan demesia lebih kecil
Pendidikan
21
<23 p=""> 
<24 p="">
Abnormal pada tingkat pendidikan kelas 2 SMP
Abnormal pada tingkat pendidikan SMA
Abnormal pada tingkat pendidikan Perguruan Tinggi
Keparahan
24-30
18-23
0-17
Tidak ada kelainan kognitif
Kelainan kognitif ringan
Kelainan kognitif berat


G.     Pola Persepsi diri - Konsep diri
1)      Gambaran diri ( Body Image )
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu.

2)      Ideal Diri.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu. ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu :


Ø  Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya.
Ø  Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri.
Ø  Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan      untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasan cemas dan rendah diri.
Ø  Kebutuhan yang realistis.
Ø  Keinginan untuk menghindari kegagalan.
Ø  Perasaan cemas dan rendah diri.
3)      Harga diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri. Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia.
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama ). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata).

4)      Peran
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri.
5)      Identitas
Identitas adalah kesadarn akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh
Ø  Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat ditandai dengan:
Memandang dirinya secara unik

Ø  Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain
Ø  Merasakan otonomi : menghargai diri, percaya diri, mampu diri, menerima dirib dan
Ø  dapat mengontrol diri.
Ø  Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan konsep diri

KEPRIBADIAN YANG SEHAT
Bagaiman individu berhubungan dengan orang lain merupakan inti dari kepribadian Kepribadian tidak cukup di uarikan melalui teori perkembangan dan dinamika diri sendiri. Berikut ini adalah pengalaman yang akan dialmi oleh individu yang mempunyai kepribadian yang sehat 
Gambaran diri yang positif dan akurat
Kesadaran akan diri berdasarkan atas observasi mandiri dan perhatian yang sesuai dengan kesehatan diri. Termasuk persepsi saat ini dan yang lalu, akan diri sendiri, perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi.
Ideal diri realistis 
Individu yang mempunyai ideal diri yang realitas akan mempuynai tujuan hidup yang dapat dicapai.
Konsep diri positif
Konsep diri positif menunjukkan bahwa individu akan sukses dalam hidupnya.
Harga diri tinggi.
Seorang yang mempunyai harga diri yang tinggi akan memandang dirinya sebagai seorang yangberarti dan bermanfaat. Ia memanding dirinya sangat sama dengan apa yang ia inginkan.
Kepuasan penampilan peran
Indiviu yang mempunyai kepribadian sehat akan mendapat berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat kepuasan. Ia dapat mempercayai dan terbuka pada orang lain dan membina hubungan interdependen.
Identitas jelas.
Individu merasakan keunikan dirinya, yang memberi arah kehidupan dan mecapai keadaan



H.     Pola Peran – Hubungan
Subyektif:
1)      Apakah lansia mengikuti organisasi kemasyarakatan atau kegiatan sosial lainnya?
2)      Bagaimana interaksi lansia dalam keluarga dan lingkungannya?
3)      Apakah ada perubahan peran akibat proses penuaan?
4)      Bagaimana sikap klien dengan kehilangan orang yang disayangi?
5)      Apakah klien mengalami kesulitan dalam berbicara atau berkomunikasi?
6)      Apakah ada ketegangan dengan orang di sekitar lansia?
Obyektif:
Observasi interaksi antara anggota keluarga atau dengan lingkungan sekitar

I.        Pola Seksual – Reproduksi
1)      Adakah perubahan fisiologis yang berdampak terhadap seksualitas lansia?
2)      Kapan lansia mengalami menopause? Keluhan apa yang dirasakan setelah mengalami menopause?
3)      Apa upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah akibat menopause?
4)      Masihkah ada minat dalam melakukan hubungan intim dengan pasangan? Bagaimana dengan frekuensi dan adakah kesulitan?
5)      Adakah keluhan dengan prostat atau hernia?

J.       Pola Kooping – Toleransi Stress
Subyektif:
1)      Bagaimana status emosi lansia?
2)      Adakah masalah/stress psikologis akhir-akhir ini seperti: depresi, kehilangan, pasangan hidup, minder, dan lain-lain?
3)      Bagaimana upaya pengelolaan stress? Apakah upaya tersebut membantu lansia mengatasi masalahnya?
4)      Bagaimana lansia memproyeksikan stressor yang terjadi?
5)      Apakah lansia dapat menerima status kesehatannya?
6)      Adakah pengalaman yang traumatik pada lansia?
Obyektif:
Catat perilaku atau manifestasi psikologis dari mood, afek, kecemasan, dan stress

K.     Pola Nilai – Kepercayaan
Pada waktu inilah kelahiran seorang iman sangat perlu untuk melapangkan dada klien lanjut usia. Dengan demikian pendekatan perawat pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap fisik saja, melainkan perawat lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka. Mengingatkan klien lansia apakah sudah beribadah, bagaimana perasaan lansia setelah beribadah, melakukan hal-hal yang berhubungan dengan beribadah lainnya (berdoa, pergi ketempat beribadah, berpuasa, berdoa bersama atau pengajian, membaca kitab suci atau al’quran dan lain-lain).