Minggu, 03 Mei 2015

PENGKAJIAN LANSIA SEBAGAI INDIVIDU

A.     Pola Persepsi kesehatan dan Pemeliharaan kesehatan
1.      Untuk lanjut usia yang masih aktif, asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu: kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga: kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan : makanan yang sesuai, misalnya porsi kecil bergizi, bervariai dan mudah dicerna, dan kesegaran jasmani.
2.      Untuk lanjut usia yang mengalami pasif, yang tergantung pada orang lain. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada dasarnya sama seperti pada lanjut usia aktif, dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas. Khususnya bagi yang lumpuh, perlu dicegah agar tidak terjadi dekubitus (lecet).

B.     Pola Nutrisi – metabolic
1)      Pengukuran Antropometri
Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu pengukuran antropometri yang bnyak dilakukan untuk mengevaluasi status gizi lansia. IMT yang rendah berhubungan dengan penurunan kemampuan fungsional dan peningkatan mortilitas pada lansia. Berbagai pengukuranb lain seperti tebal lemak bawah kulit (pengukuran skinfold) juga dapat dipakai untuk penentuan status gizi lansia.
2)      Pemeriksaan Laboratorium
Protein
Pengukuran simpanan protein tubuh seperti serum albumin, transferin dan total iron binding capacity (TIBC) sering dipakai untuk mengukur status gizi lansia. Hipoalbumin merupakan predictor yang baik untuk defisiensi protein pada lansia. Namun, albumin banyak terpengaruh pada status hidrasi, fungsi hati dan adanya penyakit ginjal atau saluran cerna pada lansia yang menyebabkan kehlangan protein. Sehingga, penentuan status gizi pada lansia dengan menggunakan serum albumin harus dilakukan setelah faktor-faktor lain disingkirkan. Waktu paruh albumin yang panjang (14-20 hari) menjelaskan mengapa serum albumin bereaksi lambat terhadap terapi.
Kolesterol
Serum kolesterol yang rendah pada lansia juga merupakan indicator status gizi yang kurang pada lansia.
3)      Assessmen Diet
Metoda pengukuran asupan gizi pada lansia yang tepat sangat sulit karena keterbatasan fisik dan psilogis dari lansia. Food Frequency Questionnaire (FFQ) yang sederhana dapat digunakan untuk menilai asupan gizi lansia. Pada lansia yang mampu menulis dapat digunakan 3-day record, dimana dengan metoda ini seorang lansia diminta menuliskan apa saja yang dikonsumsi dalam 3 hari (2 hari biasa dan 1 hari libur). Recall 24 jam juga sering dipakai untuk menilai status gizi lansia. Namun, karena keterbatasan fungsi ingatan pada lansia, metoda ini dianggap kurang sahih.

C.     Pola Eliminasi
1)      Makroskopis
Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah, warna, bau, darah, lendir dan parasit. Feses untuk pemeriksaan sebaiknya yang berasal dari defekasi spontan. Jika pemeriksaan sangat diperlukan, maka sampel tinja di ambil dengan menggunakan jari bersarung dari rectum. Untuk pemeriksaan biasa digunakan tinja sewaktu, jarang diperlukan tinja 24 jam untuk pemeriksaan tertentu. Tinja hendaknya diperiksa dalam keadaan segar, kalau dibiarkan mungkin sekali unsur-unsur dalam tinja itu menjadi rusak.
2)      Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa, telur cacing, leukosit, eritosit, sel epitel, kristal, makrofag dan sel ragi. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing.
D.     Pola Aktivitas – Latihan





E.      Pola Istirahat – Tidur
1)      Penyakit
Seseorang yang mengalami sakit memrlukan waku tidur lebih banyak dari normal. Namaun demikian , keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur. Misalnya pada pasien dengan gagguan pernapasan seperti asma, bronkitis, penyakit kardiosvaskular,dan pnyakit persarafan.
2)      Lingkungan
Pasien yang biasanya tidur dalam lingkungan tenang dan nyaman, kemudian terjadi perubahan suasana seperti gaduh maka akan menghambat tidurnya.
3)      Motivasi
Motivasi dapat mempengaruhi tidur dan dapat menimbulkan keinginan untuk tetap bangun dan waspada menahan kantuk.
4)      Kelelahan
Kelelahan dapat memperpendek periode pertama dari tahap REM.
5)      Kecemasan
Pada keadaan cemas seorang mungkin meningkatkan saraf simpatis sehingga mengganggu tidurnya.
6)      Alkohol
Alkohol menekan REM secara normal,seseorang yang tahan minum alkohol dapat mengakibatkan insomania dan lekasa marah.
7)      Obat-obatan
Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidut antara lain:
a)      Diuretik          : menyebabkan insomnia
b)      Antidepresan   : menyupresi REM
c)      Kafein            : meningkatkan saraf simpais
d)     Beta-bloker     : menimbulkan insomnia
e)      Narkotika       : menyupresi REM
8)      Nutrisi
Makanan yang banyak mengandung L-Triptofan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna seperti keju,susu,daging dan ikan tuna dapat mampercepat terjadinya ptoses.
9)      Insomnia
Pengertian insomnia mencakup banyak hal. Insomnia dapat berupa kesulitan untuk tidur ataukesulitan untuk tetap tidur, bahkan seseoranng yang terbangun dari tidur tapi merasa belumcukup tidur dapat di sebut mengalami insomnia (japardi 2002). Jadi insomnia merupakan ketidak mampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur baik secara kualitas maupun kuantitas. Insomnia bukan berarti seseorang tidak dapat tidur/kurang tidur karena orang yang menderita insomniasering dapat tidur lebih lama dari yang mereka pikirkan, tetapi kualitasnya berkurang.Jenis insomnia yaitu :
Ø  Insomnia insial adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat memulai tidur.
Ø  insomnia intermiten adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat mempertahankan tidur atau keadaan sering terjaga dari tidur.
Ø  insomnia terminal adalah bangun secara dini dan tidak dapat tidur lagi. Beberapa factor yang menyebabkan seseorang mengalami insomnia yaitu rasa nyeri, kecemasan,ketakutan, tekanan jiwa kondisi, dan kondisi yang tidak menunjang untuk tidur.
10)  Somnambulisme
Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat kompleks mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, duduk di tempat tidur, menabrak kursi,berjalan kaki dan berbicara. Termasuk tingkah laku berjalan dalam beberapa menit dankembali tidur (Japardi 2002). Lebih banyak terjadi pada anak-anak, penderita mempunyai resikoterjadinya cidera.
11)  Enuresis
Enuresis adalah kencing yang tidak di sengaja (mengompol) terjadi pada anak-anak, remaja dan paling banyak pada laki-laki, penyebab secara pasti belum jelas, namun ada bebrapa faktor yangmenyebabkan Enuresis seperti gangguan pada bladder, stres, dan toilet training yang kaku.
12)  Narkolepsi
Merupakan suatu kondisi yang di cirikan oleh keinginan yang tak terkendali untuk tidur, dapat dikatakan pula bahwa Narkolepsi serangan mengantuk yang mendadak sehingga ia dapat tertidur  pada setiap saat di mana serangn mengantuk tersebut datang. Penyebabnya secara pasti belum jelas, tetapi di duga terjadi akibat kerusakan genetika sistem saraf pusat di mana periode REM tidak dapat di kendalikan. Serangan narkolepsi dapat menimbulkan bahaya bila terjadi pada waktu mengendarai kendaraan, pekerja yang bekerja pada alat-alat yang berputar-putar atau berada di tepi jurang.
13)  Mendengkur
Disebabkan oleh adanya rintangan terhadap pengaliran udara di hidung dan mulut. Amandelyang membengkak dan Adenoid dapat menjadi faktor yang turut menyebabkan mendengkur.Pangkal lidah yang menyumbat saluran nafas pada lansia. Otot-otot dibagian belakang mulut mengendur lalu bergetar bila dilewati udara pernafasan.

F.      Pola Kognitif – Perseptual

Teknik pemakaian dan penilaian MMSE (mini mental state examination)
MMSE menggunakan instrumen berbentuk berbagai pertanyaan. Daftar pertanyaan terdapat pada gambar 1. Cara penggunaannya adalah sebagai berikut :
Penilaian Orientasi (10 poin)
Pemeriksa menanyakan tanggal, kemudian pertanyaan dapat lebih spesifik jika ada bagian yang lupa (misalnya :”Dapatkah anda juga memberitahukan sekarang musim apa?”). Tiap pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu) poin. Pertanyaan kemudian diganti dengan ,”Dapatkah anda menyebutkan nama rumah sakit ini (kota, kabupaten, dll) ?”. Tiap pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu poin).

Penilaian Registrasi (3 poin).
Pemeriksa menyebutkan 3 nama benda yang tidak berhubungan dengan jelas dan lambat. Setelah itu pasien diperintahkan untuk mengulanginya. Jumlah benda yang dapat disebutkan pasien pada kesempatan pertama dicatat dan diberikan skor (0-3). Jika pasien tidak dapat menyebutkan ketiga nama benda tersebut pada kesempatan pertama, lanjutkan dengan mengucapkan namanya sampai pasien dapat mengulang semuanya, sampai 6 kali percobaan.  Catat jumlah percobaan yang digunakan pasien untuk mempelajari kata-kata tersebut. Jika pasien tetap tidak dapat mengulangi ketiga kata tersebut, berarti pemeriksa harus menguji ingatan pasien tersebut. Setelah menyelesaikan tugas tersebut, pemeriksa memberitahukan kepada pasien agar mengingat ketiga kata tersebut, karena akan ditanyakan sebentar lagi.

Perhatian dan kalkulasi (5poin)
Pasien diperintahkan untuk menghitung mundur dari 100 dengan selisih 7. hentikan setelah 5 angka. Skor berdasarkan jumlah angka yang benar. Jika pasien tidak dapat atau tidak dapat mengerjakan tugas tersebut, maka dapat digantikan dengan mengeja kata ”DUNIA” dari belakang. Cara menilainya adalah menghitung kata yang benar. Contohnya jika menjawab “AINUD” maka diberi nilai 5, tetapi jika menjawab “AINDU” diberi nilai 3.

Ingatan (3poin)
Pasien diperintahkan untuk mengucapkan 3 kata yang diberikan sebelumnya kepada pasien dan disuruh mengingatnya. Pemberian skor dihitung berdasarkan jumlah jawaban yang benar.

Bahasa dan praktek (9 poin)
Penamaan : Pasien ditunjukkan arloji dan diminta menyebutkannya. Ulangi dengan menggunakan pensil. Skor 1 poin setiap nama benda yang benar (0-2).
Repetisi (pengulangan) : Pasien diminta untuk mengulangi sebuah kalimat yang diucapkan oleh penguji pada hanya sekali kesempatan. Skor 0 atau 1.
Perintah 3 tahap : pasien diberikan selembar kertas kosong, dan diperintahkan, ” Taruh kertas ini pada tangan kanan anda, lipat menjadi 2 bagian, dan taruh di lantai”. Skor 1 poin diberikan pada setiap perintah yang dapat dikerjakan dengan baik (0-3).
Membaca : Pasien diberikan kertas yang bertuliskan ”Tutup mata anda” (hurufnya harus cukup besar dan terbaca jelas oleh pasien. Pasien diminta untuk membaca dan melakukan apa yang tertulis. Skor 1 diberikan jika pasien dapat melakukan apa yang diperintahkan. Tes ini bukan penilaian memori, sehingga penguji dapat mendorong pasien dengan mengatakan ”silakan melakukan apa yang tertulis” setelah pasien membaca kalimat tersebut.
Menulis : Pasien diberikan kertas kosong dan diminta  menuliskan suatu kalimat. Jangan mendikte kalimat tersebut, biarkan pasien menulis spontan. Kalimat yang ditulis harus mengandung subjek, kata kerja dan membentuk suatu kalimat. Tata bahasa dan tanda baca dapat diabaikan.
Menirukan : pasien ditunjukkan gambar segilima yang berpotongan, dan diminta untuk menggambarnya semirip mungkin. Kesepuluh sudut harus ada dan ada 2 sudut yang berpotongan unruk mendapatkan skor 1 poin. Tremor dan rotasi dapat diabaikan.
Interpretasi penilaian MMSE

Setelah dilakukan penilaian, skor dijumlahkan dan didapatkan hasil akhir. Hasil yang didapatkan diintrepetasikan sebagai dasar diagnosis. Ada beberapa interpretasi yang bisa digunakan. Metode yang pertama hanya menggunakansingle cutoff, yaitu abnormalitas fungsi kognitif jika skor <24 .="" lain="" lang="SV" menggunakan="" metode="" range.="" span="">Jika skor <21 akan="" demensia="" jika="" kemungkinan="" meningkat="" sedangkan="" skor="">25 kecil kemungkinan demensia.
Interpretasi lainnya memperhitungkan tingkat pendidikan pasien. Pada pasien dengan tingkat pendidikan rendah (di bawah SMP) ambang batas abnormal diturunkan menjadi 21, pada tingkat pendidikan setingkat SMA abnormal jika skor <23 abnormal="" jika="" o:p="" pada="" perguruan="" skor="" tinggi="" tingkat="">
Berat ringannya gangguan kognitif dapat diperkirakan dengan MMSE. Skor 24-30 menunjukkan tidak didapatkan kelainan kognitif. Skor 18-23 menunjukkan kelainan kognitif ringan. Skor 0-17 menunjukkan kelainan kognitif yang berat. 
Tabel 1. Interpretasi MMSE.

Metode
Skor
Interpretasi
Single Cutoff
<24 p="">
Abnormal
Range
<21 p=""> 
>25
Kemungkinan demesia lebih besar
Kemungkinan demesia lebih kecil
Pendidikan
21
<23 p=""> 
<24 p="">
Abnormal pada tingkat pendidikan kelas 2 SMP
Abnormal pada tingkat pendidikan SMA
Abnormal pada tingkat pendidikan Perguruan Tinggi
Keparahan
24-30
18-23
0-17
Tidak ada kelainan kognitif
Kelainan kognitif ringan
Kelainan kognitif berat


G.     Pola Persepsi diri - Konsep diri
1)      Gambaran diri ( Body Image )
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu.

2)      Ideal Diri.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu. ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu :


Ø  Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya.
Ø  Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri.
Ø  Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan      untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasan cemas dan rendah diri.
Ø  Kebutuhan yang realistis.
Ø  Keinginan untuk menghindari kegagalan.
Ø  Perasaan cemas dan rendah diri.
3)      Harga diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri. Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia.
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama ). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata).

4)      Peran
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri.
5)      Identitas
Identitas adalah kesadarn akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh
Ø  Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat ditandai dengan:
Memandang dirinya secara unik

Ø  Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain
Ø  Merasakan otonomi : menghargai diri, percaya diri, mampu diri, menerima dirib dan
Ø  dapat mengontrol diri.
Ø  Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan konsep diri

KEPRIBADIAN YANG SEHAT
Bagaiman individu berhubungan dengan orang lain merupakan inti dari kepribadian Kepribadian tidak cukup di uarikan melalui teori perkembangan dan dinamika diri sendiri. Berikut ini adalah pengalaman yang akan dialmi oleh individu yang mempunyai kepribadian yang sehat 
Gambaran diri yang positif dan akurat
Kesadaran akan diri berdasarkan atas observasi mandiri dan perhatian yang sesuai dengan kesehatan diri. Termasuk persepsi saat ini dan yang lalu, akan diri sendiri, perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi.
Ideal diri realistis 
Individu yang mempunyai ideal diri yang realitas akan mempuynai tujuan hidup yang dapat dicapai.
Konsep diri positif
Konsep diri positif menunjukkan bahwa individu akan sukses dalam hidupnya.
Harga diri tinggi.
Seorang yang mempunyai harga diri yang tinggi akan memandang dirinya sebagai seorang yangberarti dan bermanfaat. Ia memanding dirinya sangat sama dengan apa yang ia inginkan.
Kepuasan penampilan peran
Indiviu yang mempunyai kepribadian sehat akan mendapat berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat kepuasan. Ia dapat mempercayai dan terbuka pada orang lain dan membina hubungan interdependen.
Identitas jelas.
Individu merasakan keunikan dirinya, yang memberi arah kehidupan dan mecapai keadaan



H.     Pola Peran – Hubungan
Subyektif:
1)      Apakah lansia mengikuti organisasi kemasyarakatan atau kegiatan sosial lainnya?
2)      Bagaimana interaksi lansia dalam keluarga dan lingkungannya?
3)      Apakah ada perubahan peran akibat proses penuaan?
4)      Bagaimana sikap klien dengan kehilangan orang yang disayangi?
5)      Apakah klien mengalami kesulitan dalam berbicara atau berkomunikasi?
6)      Apakah ada ketegangan dengan orang di sekitar lansia?
Obyektif:
Observasi interaksi antara anggota keluarga atau dengan lingkungan sekitar

I.        Pola Seksual – Reproduksi
1)      Adakah perubahan fisiologis yang berdampak terhadap seksualitas lansia?
2)      Kapan lansia mengalami menopause? Keluhan apa yang dirasakan setelah mengalami menopause?
3)      Apa upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah akibat menopause?
4)      Masihkah ada minat dalam melakukan hubungan intim dengan pasangan? Bagaimana dengan frekuensi dan adakah kesulitan?
5)      Adakah keluhan dengan prostat atau hernia?

J.       Pola Kooping – Toleransi Stress
Subyektif:
1)      Bagaimana status emosi lansia?
2)      Adakah masalah/stress psikologis akhir-akhir ini seperti: depresi, kehilangan, pasangan hidup, minder, dan lain-lain?
3)      Bagaimana upaya pengelolaan stress? Apakah upaya tersebut membantu lansia mengatasi masalahnya?
4)      Bagaimana lansia memproyeksikan stressor yang terjadi?
5)      Apakah lansia dapat menerima status kesehatannya?
6)      Adakah pengalaman yang traumatik pada lansia?
Obyektif:
Catat perilaku atau manifestasi psikologis dari mood, afek, kecemasan, dan stress

K.     Pola Nilai – Kepercayaan
Pada waktu inilah kelahiran seorang iman sangat perlu untuk melapangkan dada klien lanjut usia. Dengan demikian pendekatan perawat pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap fisik saja, melainkan perawat lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka. Mengingatkan klien lansia apakah sudah beribadah, bagaimana perasaan lansia setelah beribadah, melakukan hal-hal yang berhubungan dengan beribadah lainnya (berdoa, pergi ketempat beribadah, berpuasa, berdoa bersama atau pengajian, membaca kitab suci atau al’quran dan lain-lain).


Senin, 27 April 2015

Membuat Blog agar tidak di Copy Paste (COPAS)

       Banyak yang suka mencari data (dalam bentuk apapun) dengan menggunakan mesin pencarian (google, yahoo, bing, amazon, Ask, eBay, webwebweb, dll). 

terkadang ketika mereka membuka sebuah Blog (apapun bentuknya), mereka lebih menyukai cara instan yaitu tinggal di COPAS (copy paste). 
Untuk itu saya akan mencoba untuk mengajarkan Trik agar Blog anda tidak bisa di COPAS:


  1. First: anda harus mempunya Blog dulu yea hehehe. Anda harus Login ke Blog anda sendiri.
  2. Klik Desain dikanan atas Blog anda
  3. Pilih Template >>Edit HTML
  4. cari kode seperti berikut </head> atau bisa langsung (CTRL+F).
  5. Tuliskan SCRIPT seperti yang ada dibawah ini, ( dituliskan dibawah kode </head> )

</head>
  <SCRIPT type="text/javascript">
if (typeof document.onselectstart!="undefined"){
document.onselectstart=new Function ("return false");}
else{document.onmousedown=new Function ("return false");
document.onmouseup=new Function ("return true");}
  </SCRIPT>

kemudian Klik Save Template,,,,,

Sangat Gampang kan???
Saya rasa cukup sekian yang bisa saya ajarkan, kurang dan lebihnya saya minta Ma'f, 
Jangan lupa, saya butuh kritikan anda untuk meningkatkan kualitas Blog, 
So,,, jangan kosongkan kolom komentarnya yea. Trimah Kasih atas Kunjungannya...

Minggu, 26 April 2015

Isolasi Sosial

KEPERAWATAN JIWA II
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Dosen Pengampu : Wahyu Rochdiat M, M.Kep,sp.Kep.J
Disusun Oleh :
Nama Kelompok 6 :
1.        Darwin sidete
2.        Serly M. Parera
3.        Alviana Megawati
4.        Nimas A.Rarasati
5.        Muktar
6.        Kk kelas
Kelas : A.73


PROGRAM STUDI S1-KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2013



BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Sehat merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pada masa globalisasi saat ini banyak tuntutan yang menjadikan stressor dalam kehidupan. Setressor yang dihadapi seseorang harus diikuti dengan kemampuan koping yang konstruktif, dikarenakan seseorang yang mengalami kegagalan dalam memberikan koping yang tidak sesuai dengan tekanan yang dialami, mengakibatkan individu mengalami berbagai macam gangguan mental, stressor yang sering dijumpai saat ini yaitu kondisi lingkungan sosial yang semakin keras dan diperberat dengan tingkat kemiskinan yang menekan dapat menjadi penyebab meningkatnya jumlah masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan (Yosep, 2007).
Tuntutan hidup yang semakin tinggi dan kemampuan koping yangtidak konstruktif mengakibatkan angka kejadian gangguan jiwa tinggi. Saat ini diperkirakan ada 450 juta penderita gangguan jiwa di seluruh dunia. Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) 1995 didapatkan prevalensi gangguan jiwa 264 per 1.000
anggota rumah tangga (Musafir, 2010). Data yang dimuat oleh Wawasan tanggal 13 Oktober 2010 angka kejadian penderita gangguan jiwa di Jawa Tengah berkisar antara 3.300 orang sampai 9.300 orang. Angka kejadian ini merupakan penderita yang sudah terdiagnosa (Waluyo, 2010).
Manusia membutuhkan individu lain untuk dapat menyelesaikan tuntutan-tuntutan hidupnya, sehingga setiap individu mempunyai potensi untuk terlibat dalam hubungan sosial pada berbagai tingkat hubungan, yaitu dari hubungan intim sampai dengan hubungan saling ketergantungan. Keintiman dan saling ketergantungan dalam menghadapidan mengatasi berbagai kebutuhan setiap hari. Individu tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosial. Oleh karena itu individu perlu membina hubungan interpersonal yang memuaskan (Stuart, 2007).
Kepuasan hubungan dapat dicapai jika individu terlibat secara aktif dalam proses berhubungan. Peran serta yang tinggi dalam berhubungan serta respon lingkungan yang positif akan meningkatkan rasa memiliki, kerja sama, hubungan timbal balik  yang sinkron. Peran serta dalam proses hubungan dapat berfluktuasi sepanjang rentang tergantung dan artinya suatu saat individu tergantung pada orang lain dan suatu saat orang lain tergantung pada individu (Stuart &Sundeen, 1998).
Seseorang apabila tidak dapat menyesuaikan diri atau mempertahankan diri serta tidak dapat membina hubungan interpersonal yang memuaskan akibat tuntutan hidup yang tinggi maka dia dapat mengalami gangguan jiwa, gejala gangguan jiwa yang mencakup mulai dari gangguan kecemasan, depresi, panik, harga diri rendah, isolasi sosial hingga gangguan jiwa yang berat yaitu tindakan bunuh diri.
Salah satu gangguan jiwa yang ditemukan di masyarakat adalah isolasi sosial: menarik diri. Menarik diri adalah suatu keadaan seseorang yang kesulitan berinteraksi dengan orang lain secara langsung bersifat sementara atau menetap. Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins, 1993).

B. TUJUAN
a. Tujuan umum
    setelah menyusun makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan mengerti   tentang isolasi sosial dan strategi pelaksanaan isolasi sosial.
b. Tujuan Khusus
a.    Mahasiswa mampu mengetahui definisi isolasi sosial
b.    Mahasiswa mampu mengetahui tanda dan gejala isolasi sosial
c.    Mahasiswa mampu mengetahui rentang respon sosial
d.   Mahasiswa mampu mengetahui faktor predisposisi isolasi sosial
e.    Mahasiswa mampu mengetahui faktor presiptasi isolasi sosial
f.     Mahasiswa mampu mengetahui strategi pelaksanaan isolasi sosial



BAB II
DASAR TEORI
A.    DEFINISI
Isolasi sosial adalah suatu pengalaman menyendiri dari seseorang dan perasaan segan terhadap orang lain sebagai sesuatu yang negatif atau keadaan yang mengancam (Nanda,2008).
Isolasi sosial merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhibungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan (Rawlin,1988).
Isolasi sosial merupakan seseorang dengan perilaku menarik diri dan akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangna hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan, ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain dengan dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian  dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes,1998).

B.     TANDA DAN GEJALA
Ø  Gejala Subjektif
-       Klien menceriterakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain
-       Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
-       Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain
-       Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
-       Klien merasa tidak berguna
-       Respon verbal kurang dan sangat singkat
-       Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
-       Klien tidak yakin dapat melangsungakan hidup
-       Klien merasa ditolak oleh orang lain
Ø  Gejala Objektif
-       Klien banyak diam dan tidak mau berbicara
-       Banyak berdiam diri di kamar dan tidak mengikuti kegiatan
-       Klien tidak mau berinteksi dengan orang lain
-       Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal
-       Kontak mata kurang
-       Kurang spontan
-       Apatis (acuh terhadap lingkungan)
-       Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
-       Mengisolasi diri
-       Aktivtas menurun
-       Kurang energy (tenaga)
-       Rendah diri
-       Retensi urin dan feses
(Iyus,2009)

C.     RENTANG RESPON SOSIAL
Hubungan interpersonal individu dapt di interpretasikan dalam rentang adaptif-maladaptif, dimana dalam kondisi adaptif seseorang memiliki hubungan yang sehat dengan menunjukan interaksi yang interdependen sedangkan kondisi maladaptif ditunjukan dengan tidak adanya kontak dengan orang lain. Menurut Stuart Sundeen rentang respon klien ditinjau dari interaksinya dengan lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang terbentang antara respons adaptif dengan maladaptif sebagai berikut :
 


          Respon Adaptif                                                                              Respon Maladaptif
1.      Solitude                               1. Loneliness                                1. Menarik diri
2.      Autonomy                           2. Dependence                                         2. ketergantungan
3.      Mutuality                             3. Curiga                                      3. Manipulasi
4.      Interdependence                                                                      4. Curiga

a.     Respon Adaptif
Yaitu respon individu dalam penyesuaian masalah yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan, meliputi :
1.      Solitude (menyendiri)
Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya, dan merupakan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya                             
2.      Autonomy (kebebasan)
Respon individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran dan perasaan dalam hubungan sosial                    
3.      Mutuality 
Respon individu dalam berhubungan interpersonal dimana individu saling memberi dan menerima.    
4.      Interdependence  (saling ketergantungan)
Respon individu dimana terdapat saling ketergantungan dalam melakukan hubungan interpersonal

b.      Respon antara adaptif dan maladaptif
1.      Loneliness (kesepian)
Dimana individu mulai merasa kesepian, terkucilkan dan tersisihkan dari lingkungan
2.      Dependence  (ketergantungan)
Individu mulai tergantung kepada indivdu yang lain dan mulai tidak memperhatikan kemampuan yang dimilikinya
3.      Curiga
Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.

c.       Respon Maladaptif
Yaitu respon individu dalam penyelesaian masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya lingkungannya.

1.      Menarik diri
Seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain
2.      Ketergantungan
Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain
3.      Manipulasi
Seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
4.      Curiga
Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.

      
D.    FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan merasa tertekan. (Stuart and Sundeen, 1995).

1.      Teori Biologikal dan hubungannya dengan menarik diri
a. Genetik
Transmisi gangguan alam perasaan yang membuat perasaan sedih dan individu merasa tak pantasberada ditengah lingkungan sosialnya. Keadaan ini diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar monozigot dibanding dizigot walaupun diasuh secara terpisah.
b. Neurotransmitter
Katekolamin : Penurunan relatif dari katekolamin otak atau aktifitas sistem katekolamin menyebabkan timbulnya depresi dan berusaha menghindari lingkungan sosial. Asetilkolin : Suatu peningkatan aktifitas kolinergik dapat menjadi faktor penyebab dan berusaha menghindari lingkungan sosial. Serotonin : Suatu defisit pada sistem serotoninergik dapat merupakan faktor penyebab dari depresi dan berusaha menghindari lingkungan sosial.
c. Endokrin
Keadaan sedih berkaitan dengan gannguan hormon seperti pada hipotiroidisme dan hipertirodisme,terapi estrogen eksogen, dan post partum.

2.      Teori Psikologikal dan hubungannya dengan menarik diri
Uraian teori psikologikal dan hubungannya dengan menarik diri yang dipaparkan disini lebih spesifik berdasarkan Teori Perkembangan Erik H. Erikson. Menurut Erikson, dalam menuju maturasi psikososial, manusia perlu menjalankan 8 tugas perkembangan (development task) sesuai dengan proses perkembangan usia. Faktor stimulasi menjadi sangat penting melalui proses belajar menuju maturasi.Untuk mengembangkan hubungan social yang positif, setiap tugas perkembangan sepanjang daur kehidupan diharapkan dilalui dengan sukses sehingga kemampuan membina hubungan social dapat menghasilkan kepuasan bagi individu. Sebaliknya tugas perkembangan yang tidak dijalankan dengan baik memberikan implikasi masalah psikososial di kemudian hari, yaitu:
a.       Masa bayi/anak usia 0 –1,5 tahun (konflik basic trust vs mistrust)
Bayi sangat bergantung pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhan biologis dan psikologisnya. Bayi biasanya berkomunikasi untuk dipenuhi kebutuhannya dengan menangis. Kesediaan ibu secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan makan, rasa aman, rasa nyaman dan kehangatan akanberimplikasi pada pemebntukan rasa percaya pada diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Kegagalan ibu dalam memenuhi kebutuhannya akan berimplikasi pada rasa tidak percaya pada diri sendiri, oranglain, lingkungannya dan perilaku menarik diri.

b.      Masa anak usia 1,5 –3 tahun (Conflik otonomy vs shame and doubt).
Pada rentang usia ini, anak mulai menyadari dirinya terpisah dengan orang lain (memiliki otonomi). Anak akan mulai berkreasi dalam kebebasan dirinya seperti berlari-lari, memegang segala sesuatu yang disukainya, dapat mengendalikan organ-organ tubuhnya dan dapat menyatakan menolak atau menerima sesuatu dari orang lain. Otonomi anak yang berkembang pada tahap ini menuju pada membina hubungan dengan orang lain secara interdependent. Kegagalan anak dalam membina hubungan dengan lingkungannya dan keluarga cenderung membatasi kebebasannya atas dasar pertimbangan yang negatif terhadap lingkungannya (over protective) berimplikasi pada kepribadiananak yang pemalu dan peragu. Pada kondisi lebih lanjut mengakibatkan individu menarik diri dari orang lain dan lingkungannya.

c.       Masa anak usia 3 –6 tahun (Conflik initiative vs guilt)
Pada usia ini semakin berkembang rasa inisitatif anak. Anak mulai banyak bertanya secara kritis dan mencoba melakukan tugas tertentu. Inisiatif yang ditunjukkan misalnya mandi sendiri, membereskan sendiri permainannya, membantu adiknya dan sebagainya. Pada usia ini, anak mulai menghadapi tuntutan normative dari lingkungannya. Hal ini dapat menimbulkan krisis pada anak sehingga akan mengalami kekecewaaan yang selanjutnya menuju pada rasa bersalah yang berlebihan. Sebaliknya jika lingkungannya kondusif maka berimplikasi pada pembentukan kepribadian anak yang berinisiatif. Perilaku yang menunjukkan rasa bersalah yaitu, takut memulai pekerjaan yang baru, meminta maaf secara berlebihan dan menjadi sangat malu hanya karena kesalahan kecil. Pada kondisi lebih lanjut dapat menimbulkan menarik diri.

d.      Masa anak usia 6 –12 tahun (Conflik industry vs inferiority)
Pada usia ini, anak mulai terdorong untuk melaksanakan tugas-tugas yang dihadapinya secara sempurna dan menghasilkan karya-karya tertentu. Pada usia ini anak mulai bersekolah dan memulai menyesuaikan diri dengan aturan-aturan baru di lingkungan sekolah dan keluarga. Dengan bersekolah, anak memulai mengembangkan hubungan interpersonal dengan kelompoknya terutama dengan yang berjeniskelamin sama. Anak mulai mampu menukar kemampuannya, merasakan kegunaannya dan berkesempatan membandingkan dirinya dengan teman sebayanya. Orang tua tidak lagi menjadi satu-satunya sumber identifikasi anak. Anak mulai melihat dan mengagumi orang lain selain orang tua dan temannya. Figur guru sangat menjadi panutan bagi anak sehingga sering kali anak menjadi lebih percayapada gurunya daripada orang tuanya. Oleh karena itu orang tua dan guru haruslah menjadi figure yangseimbang untuk ditiru anak. Apabila lingkungan (orang tua dan guru) tidak menghargai hasil karya atau usaha anak maka anak akan mengalami ketidakpuasan dalam bekerja dan diliputi perasaan kurang, tidakmampu dan inferior yang ditunjukkan dengan perilaku : Tidak biasa bekerja sama dengan orang lain, tidak mampu mengerjakan tugas dengan tuntas dan tidak mampu mengatur tugas atau pekerjaan. Pada kondisi lebih lanjut mengakibatkan menarik diri.

e.       Masa usia 12–20 tahun (Conflik identity vs role confusion)
Merupakan usia peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa, yang sering disebut pubertas. Perubahan fisik dan kejiwaan terjadi begitu pesat sehingga dapat mengganggu keseimbangan diri yang sebelumnya sudah tercapai. Secara biologis kemampuan anak sama dengan orang dewasa, namun secara psikosial dianggap masih labil. Mereka dianggap tidak pantas berperilaku seperti anak-anak tetapi lingkungan juga tidak mengakui mereka sebagai orang dewasa. Pada usia ini, remaja mulai menunjukkan identitas dirinya, baik dalam seksual, umur dan pekerjaan. Kelompok teman sebaya menjadi sangat penting bagi remaja. Melalui teman sebaya, remaja dapat mengeksprersikan perasaan, pikiran, memainkan perandan bereksperimen dengan peran. Dalam kelompok inilah remaja mendapat pengakuan dan merima keberadaannya. Sikap orang tua yang terbuka, mengembangkan komunikasi yang akrab, menghargai pendapat dan pikiran remaja, memberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri sebagai sahabat bagi remaja akan sangat membantu remaja dalam memperoleh identitas dirinya. Sikap orang tua dan lingkungan yang tidak mendukung ke arah remaja menemukan identitas dirinya dengan selalau saling bertentangan akan menimbulkan kegagalan perkembangan yaitu terjadi kebingungan peran yang ditunjukkan dengan perilaku tidak mempunyai tujuan hidup yang pasti, tidak mampu bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan mengadopsi nilai-nilai orang lain tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu. Pada kondisi lebih lanjut mengakibatkan menarik diri.

f.        Masa usia 20 –40 tahun (Conflik intimacy vs isolation)
Tahap ini merupakan tahap perkembangan dewasa awal. Individu mulai bekerja dan meningkatkan hubungan yang khusus dengan lawan jenisnya. Usia ini dapat juga dikatakan sebagai karier dan berumahtangga. Pada usia ini individu biasanya juga sudah terlepas dari orang tuanya sehingga kegagalan maupun kesuksesan dalam tahap perkembangan ini lebih banyak ditentukan oleh dirinya sendiri dan pasangan hidupnya daripada orang tuanya. Kegagalan dalam memenuhi perkembangan pada tahap ini mengakibatkan individu merasa terisolasi dan menarik diri.

g.      Masa usia 40 –60 tahun (Conflik generativity vs stagnation)
Usia 40 –60 tahun merupakan usia ketika seseorang mengalami titik karier puncak. Pada usia ini, individu akan menghasilkan sesuatu yang dapat ditawarkan kepada keturunannya. Dapat berupa tulisan, ide atau pikiran. Individu pada tahap perkembangan ini akan banyak memberikan nasihat dan pengarahan. Kegagalan pada tahap perkembangan ini berakibat individu mengalami stagnasi dimana individu lebih banyak menceritakan dirinya sendiri daripada mendengarkan orang lain. Implikasinya terhadap perkembangan psikososial dimana individu akan dijauhi dan menjauhkan diri dari orang lain dan lingkungannya yang disebut dengan menarik diri.

h.      Masa usia 65 tahun keatas.
Masa ini, individu akan mengalami masa kepuasan dan ketidakpuasan dalam kehidupannya. Bila dalam tahap perkembangan sebelumnya individu mengalami kepuasan dan siap mengalami penurunan fungsi hidupnya bahkan kematian. Hal ini disebut dengan individu telah mencapai integritas diri. Kegagalan pada usia ini, mengakibatkan individu akan mengalami keputusasaan hidup atau despair dengan berperilaku menangis dan apatis, sulit menerima perubahan dan sangat bergantung pada orang lain(tidak mandiri). Jika tidak mendapatkan perhatian mengakibatkan individu menarik diri dari orang laindan lingkungan.

3.      Teori sosiokultural dan hubungannya dengan menarik diri
Menurut Kartini Kartono (1999, dikutip oleh Sunaryo, 2004) menyebutkan bahwa timbulnya gangguanmental/gangguan jiwa ditinjau dari factor sosial-budaya/sisio-kultural sebagai berikut:
a.       Konflik dengan standar social dan norma etis
Gangguan mental dapat terjadi karena individu tidak mampu berperilaku sesuai dengan standar sosial dan norma etik yang berlaku sehingga dalam kehidupan sosial akan terjadi benturan dengan masyarakatyang menganut standar sosial dan norma etik tertentu. Prinsip ini erat kaitannya dengan stress adaptasi yang menurut menyebutkan bahwa stress disebabkan oleh perubahan-perubahan diantaranya perubahan nilai budaya, perubahan system kemasyarakatan dan pekerjaan yang mengakibatkan gangguan keseimbangan mental-emosional karena gangguan produktivitas dan kehidupan seseorang menjadi tidak efisien. Kondisi ini berpengaruh terhadap respons menarik diri seseorang. (Suliswati, dkk. 2005)

b.      Overproteksi orang tua
Akibat dari overproteksi atau perlindungan orang tua yang berlebihan terhadap anak mengakibatkan anak menjadi tidak mandiri, tidak percaya diri, tidak memiliki harga diri, ragu-ragu dan tidak memiliki kreativitas dan inisiatif. Dengan demikian mentalitas anak menjadi rapuh sehingga dapat diasumsikan bahwa lama kelamaan individu akan menarik diri dari orang lain dan lingkungan.

c.       Anak yang ditolak/tidak diterima dalam kelahirannya (rejected child)
Sering terjadi pada pasangan suami-isteri yang belum dewasa secara psikis sehingga pada saat hamil dan melahirkan cenderung menolak atau tidak mau bertanggung jawab sebagai ayah dan ibu yang baik(tidak cukup memberikan kasih saying). Hal ini dapat membentuk pribadi anak yang labil, mentalitas yang rapuh karena tidak percaya diri, tidak meiliki harga diri dan curiga sehingga dapat menimbulkan menarik diri dari hubungan social.

d.      Kondisi broken home
Keluarga yang broken home mengakibatkan anak mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan,hati yang kacau, bingung, sedih, hidup terombang-ambing antara kasih sayang dan kekecewaanterhadap orang tua. Selanjutnya anak menjadi mudah tersinggung, kesedihan yang berlebihan, putus asa, merasa terhina dan merasa berdosa. Perilaku anak akan menyimpang dari norma sosial sepertiagresif, sadistic, kriminal dan psikopatis. Kondisi ini mengakibatkan individu dijauhi atau menjauhkan diri dari orang lain dan lingkungan sosial.

e.       Konflik budaya
Pertemuan budaya antara daerah atau suku bangsa yang satu dengan lainnya membutuhkan saling pengertian dan adaptasi sosial. Apabila terjadi konflik budaya dapat menimbulkan kecemasan, ketakutan dan kehidupan perasaan semakin datar, dingin dan beku. Yang terjadi adalah perilaku yang menyimpang seperti tindakan kejahatan, kekalutan bathin dan stress psikososial. Kesemuan yaitu akan membawa individu pada kondisi menarik diri dari hubungan social.

f.       Lingkungan sekolah yang tidak kondusif
Lingkungan sekolah yang tidak kondusif seperti temperamen guru yang kejam, aktivitas peserta didik yang tertekan, bangunan tidak memenuhi syarat, tidak memiliki tempat rekreasi, dan sebagainya berimplikasi terhadap gangguan emosi anak serta konflik yang menjurus pada gangguan psikososial. Anak menjadi minder, tidak ada kebanggaan diri dan menurunnya kreatifitas sehingga berdampak padaharga diri yang rendah sehingga mengakibatkan menarik diri dari hubungan sosialnya.

g.      Cacat jasmaniah
Anak yang cacat jasmani cenderung merasa malu, minder, dibayangi ketakutan, keragu-raguan akanmasa depannya sehingga menimbulkan harga diri rendah yang menjurus pada menarik diri.

h.      Motif kemewahan materi/financial
Dewasa ini orang berlomba-lomba untuk memperoleh kemewahan material/finansial. Kebahagiaan hidup diukur dari suksesnya sesorang menduduki jabatan tinggi, status social dan sukses finasial. Keadaan seperti ini menggiring orang untuk melakukan penyimpangan atau mendapatkan materi dengan cara yang tidak halal. Orang menjadi gelisah dan cemas karena bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dianutnya. Atau pada kondisi lain, pendapatan kecil tetapi ambisinya besar untuk sukses finansial, akibatnya timbul ketegangan batin dan ketakutan. Karena ukuran hidupnya/harga dirinyaadalah sukses finansial, sementara kenyataannya tidak sesuai dengan harapan maka individu merasa rendah diri atau martabatnya menurun. Akibatnya menjauhkan diri dari hubungan social dan lingkungan.


E.     FAKTOR PRESIPITASI
Faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga danberpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and Sundeen, 1995).
1.      Faktor Nature (alamiah)
Secara alamiah, manusia merupakan makhluk holistic yang terdiri dari dimensi bio-psiko-sosial danspiritual (Dadang Hawari, 2002). Oleh karena itu meskipun stressor presipitasi yang sama tetapi apakahberdampak pada gangguan jiwa atau kondisi psikososial tertentu yang maladaptive dari individu, sangatbergantung pada ketahanan holistic individu tersebut (W.F. Maramis, 1998).

2.      Faktor Origin (sumber presipitasi)
Demikian juga dengan faktor sumber presipitasi, baik internal maupun eksternal yang berdampak pada psikososial seseorang. Hal ini karena manusia bersifat unik.

3.  Faktor Timing
Setiap stressor yang berdampak pada trauma psikologis seseorang yang berimplikasi pada gangguan jiwa sangat ditentukan oleh kapan terjadinya stressor, berapa lama dan frekuensi stressor (PPDGJ-III,2000).

4.      Faktor Number (Banyaknya stressor)
Demikian juga dengan stressor yang berimplikasi pada kondisi gangguan jiwa sangat ditentukan oleh banyaknya stressor pada kurun waktu tertentu. Misalnya, baru saja suami meninggal, seminggu kemudian anak mengalami cacad permanen karena kecelakaan lalu lintas, lalu sebulan kemudian ibukena PHK dari tempat kerjanya (Luh Ketut Suryani, 2005).




BAB III
PEMBAHASAN
Kasus
Tn. A berusia 23 tahun dirawat di RSJ Respati selama 2 hari dari hasil pengkajian pasien terlihat menyendiri, menolak berbicara sama pasien lain maupun perawat, Tn.A mengatakan bahwa ia merasa malu untuk berkenalan, ia takut ditolak oleh orang lain. Ketika diajak berbicara sama perawat Tn.A mengatakan semasa kecilnya, kedua orang tuanya sering bertengkar dan pasien selalu menjadi pelampiasan kemarahan kedua orang tuanya dan mereka memutuskan untuk bercerai. Pada saat Tn.A berusia 15 tahun klien tinggal bersama dengan paman dan bibinya. Namun akibat pertengkaran kedua orang tuannya membuat pasien merasa trauma untuk bergaul sama orang lain. Tn.A lebih nyaman menyendiri daripada berinteraksi sama orang lain.

SP 1 PASIEN ISOLASI SOSIAL
Tahap orientasi
Perawat    : Selamat pagi Tn.A, Perkenalkan saya perawat N  yang akan mendampingi Tn.A            saya bertugas dari pukul 7 pagi – pukul 2 siang. Boleh saya duduk Tn.A.?
Pasien      : Iya boleh.
Perawat    : Tn.A senang dipanggil dengan sebutan apa.?
Pasien       : Panggil saya mas A saja sus.
Perawat    : bagaimana kabar Tn.A pagi ini?
Pasien      : hmmm, kurang baik, saya merasa sedih dan ingin menyendiri
Perawat    : bisa mas ceritakan mengapa mas merasa sedih dan ingin menyendiri.?
Pasien      : hmm (menggelengkan kepala).
Perawat  : Oke kalau begitu Mas.A , saya ingin berbincang – bincang mengenai masalah   Mas.A, mas mau tempatnya disini atau dimana.?
Pasien     : hmm, disini saja sus.
Perawat  : Baiklah Mas.A kita nanti akan berbincang – bincang mengenai masalah yang sedang Mas.A hadapi waktunya nanti kurang lebih 15 menit kedepan.
Pasien      : Baik sus, disini saja.
Tahap Kerja
Perawat  : Baiklah Mas.A kalo boleh saya tahu , mas biasanya lebih suka ngobrol dengan  siapa.?
Pasien   : Saya tinggal bersama paman dan bibi saya, saya baru bisa mengobrol dengan mereka pada saat mereka berada di rumah, tapi saya lebih suka berada di kamar.
Perawat   : Apakah mas tidak memiliki teman dekat untuk mengobrol.?
Pasien   : Saya tidak memiliki teman dekat, saya tidak berani untuk berbincang –bincang terlalu banyak kepada mereka dan saya malas untuk keluar.
Perawat  : Kalau boleh saya tahu, mengapa mas A lebih suka menyendiri di kamar.?
Pasien    : Ya karena saya malas mengobrol sama orang.
Perawat : Iya Mas.A saya mengerti menurut Mas.A apa yang menghambat anda berteman  atau bercakap – cakap ?
Pasien :Saya tidak berani mengajak berkenalan kalo mereka tidak terlebih dahulu memperkenalkan dirinya jadi saya hanya memiliki sedikit teman.saya lebih nyaman sendiri.Saya terlalu gugup dan tidak tau mau mengobrol apa dengan mereka.
Perawat : Iya saya mengerti Mas.A menurut Mas.A manfaat apa saja  yang kita peroleh kalo memiliki teman ?
Pasien  : Keuntungan kita sebenarnya tidak merasakan kesepian,bisa bermain game bersama.
Perawat    :Bagus Mas.A bisa disebutkan yang lainnya?
Pasien      :Ada yang menolong kita saat memiliki masalah.
Perawat    :Bagus Mas,anda bisa menyebutkan beberapa maanfaat memiliki teman kemudian apa kerugian kita tidak mempunyai teman?
Pasien      :Kerugianya, apa – apa saya bisa melakukan sendiri di saat ulang tahun tidak ada yang ikut merayakan , saya hanya kesepian di rumah, disaat saya sakit tidak ada yang menjenguk.
Perawat    :Wah ternyata banyak  juga kerugianya ya Mas.A kalo kita tidak memiliki teman nah sekarang bagaimana kalo kita belajar berkenalan dengan orang lain.
Pasien      :tiiitidak saya tidak berani.
Perawat    :Tidak apa-apa Mas.A saya ada disini yang akan mendampingi  Mas.A untuk menghilangkan rasa takut anda, bagaimana kalau kita mencoba.?
Pasien      :Baiklah sus,akan saya coba.
Perawat    :Begini Mas.A untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan nama kita dulu, nama yang anda sukai kemudian bisa sebutkan daerah asal Mas.A  contohnya  :perkenalkan  nama saya Nimas Anis Rarasati, saya lebih suka di panggil Nimas, saya dari Jogjakarta. Ayo Mas.A  kita peragakan bersama-sama
Pasien      : selamat pagi, Perkenalkan nama saya Mas.A , saya lebih suka dipanggil Mas.A daerah asal saya dari Jogjakarta.
Perawat    :Bagus sekali Mas.A setelah berkenalan dengan orang tersebut Mas.A bisa melanjutkan percakapan yang lain tentang ,hobi, pekerjaan dan sebagainya.
Pasien      :Baik,lah sus,,,saya akan melanjutkan hobi saya adalah menulis dan saya mahasiswa di salah satu universitas di Jogja.
Perawat    :Bagus sekali Mas.A nah tentang cara berkenalan akan saya maksudkan jadwal harian.sebelumnya ada yang mau di tanyakan Mas.A
Pasien      :Maksudnya dengan jadwal seperti apa sus bisa di jelaskan?
Perawat    :Begini Mas.A semua yg kita lakukan akan tersusun di jadwal harian Mas.A yang harus dilakukan 3x setiap hari kemudian jika bapak mengerjakan sendiri maka Tn.A bisa tandai di mandiri, kalo di lakukan dengan bantuan orang lain makan tandai di damping,selanjutnya jika Mas.A. tidak melakukannya maka tandai di tidak melakukan.Mengenai soal jam Mas.A bisa menentukan waktunya Tn.A bisa menentukan sendiri.
Pasien      :ow,saya mengerti saya bisa melakukanya pada jam 7 pagi,1 siang dan jam 5 sore.
Perawat    :Baik Mas.A kita tuliskan di jadwal.
Tahap terminasi
Perawat : bagaiamana perasaan Mas.A setelah kita berbincang – bincang ?
Pasien      : hmm. Saya merasa  mencoba sesuatu hal yang baru.
Perawat   : bagus sekali mas, sekarang mas bisa mempraktekan kembali cara kita berkenalan.?
Pasien      :Bisa sus tadi kita melakukan cara berkenalan pertama – tama dengan memperkenalakan diri kemudian bersalaman kemudian menanyakan nama setalah itu menyebutkan hobi, pekerjaan dan lain2.
Perawat  : Bagus sekali  Mas.A Berhubung waktu sudah habis maka, saya sudahkan pertemuan ini akan tetapi Mas.A bisa kita bertemu hari apa lagi dan di mana untuk meneruskan perbincangan kita?
Pasien      :Bisa besokk aja di tempat ini dan jam yang sama.
Perawat    :Baik Mas.A jangan lupa bawa bawa jadwalnya besok ya Mas.A sampai jumpa besok.
Pasien      :Baik sus,trimakasih

SP 2 PASIEN ISOLASI SOSIAL
Orientasi
Perawat       : selamat pagi Mas.A, saya dengan perawat sherly. Masih ingat dengan saya mas.?
Pasien              : Oh, Iya suster yang kemarin kan..
Perawat           : Iya mas, jadi selama 10 menit kedepan saya akan melatih Mas.A untuk
                          berkenalan dengan orang lain, baik bapak mau tempatnya disin atau dimana.?
Pasien              : Disini saja suster.
Perawat           : Oke baik mas.

Tahap Kerja
Perawat           : Mas masih mengingat pelajaran kita tentang berkenalan.?
                          Coba sebutkan lagi sambil bersalaman dengan saya.
Pasien              : (sambil peragakan cara berkenalan)
Perawat           : Bagus sekali Mas, boleh saya lihat jadwal latihan mas yang telah ditulis.?
Pasien           : Bagus sekalai mas, mas telah berlatih dan telah mengisinya. nah selanjutnya   kita akan mencoba berkenalan dengan teman perawat saya yang lain, oke mas.?
Pasien              : Hmmm, oke suster
Perawat        : Selamat pagi suster Mega, Mas.A ingin berkenalan dengan suster. Baiklah mas, mas bisa langsung berkenalan dengan perawat Mega seperti yang kita praktekan kemarin.
Pasien              : (pasien mendemonstrasikan)
Perawat           : ada lagi yang Mas.A ingin tanya pada suster Mega..??
Pasien              : hmmm, sudah sus.
Perawat        : Bagus sekali, Mas.A sudah lakukan dengan benar, jadi saya akan buatkan    lagi jadwal latihan buat bapak untuk diisi di rumah ya Mas.

Tahap Terminasi
Perawat           : bagaimana perasaan Mas setelah berkenalan dengan perawat Mas.?
Pasien              :  hmm, kurang begitu menakutkan seperti yang saya pikir
Perawat           : bagus sekali Mas, pertahankan terus ya Mas apa yang sudah dilakukan tadi.
Perawat           : Oke Mas, dalam pertemuan selanjutnya kita akan coba dengan petugas RS
                          lainnya ya Mas. Berhubung waktu kita telah selesai jadi pertemuan kita hari 
                          ini sampai disini dulu. Besok kita akan bertemu ditempat dan jam yang sama
                          atau gimana Mas.?
Pasien              : iya suster, tempatnya disini dan jam 9 pagi ya sus.
Perawat           : ow, oke Mas. Sekian dan selamat pagi.


SP 3 PASIEN ISOLASI SOSIAL
Tahap Orientasi
Perawat           : selamat pagi Mas.A, bagaimana kabar Mas hari ini.?
Pasien              : Pagi juga sus, baik suster
Perawat           : Mas, masih ingat dengan saya kan.?
Pasien              : iya sus, suster Mega kan?
Perawat           : iya Mas, betul sekali, mas mau kita berbincang bincang disini atau ditempat
                          Lain mungkin.?
Pasien              : hmm, disini saja sus.
Perawat           : bagaimana perasaan Mas setelah berbincang-bincanng dengan   
                          perawat nimas kemarin.?
Pasien              : perasaanku sangat senang sus, dan merasa terhibur karena sudah punya
                          teman lagi dan mau berbincang-bincang dengan saya.
Perawat           : bagus sekali Mas, nah seperti janji kita kemarin, selama 10 menit kedepan
                          kita akan mencoba  berkenalan  dengan tenaga kesehatan yang lainnya. Tapi   
                          sebelum itu boleh jadwal harian yang telah mas isi.?
Perawat           :wah, bagus sekali mas, mas telah mencoba untuk berinteraksi dengan  
                         keluarga mas. Baiklah mari kita mencoba berkenalan dengan tenaga
                         kesehatan lain, siap mas.?
Pasien              : siap Mas.
Tahap Kerja
(bersama-sama mendekati tenaga kesehatan lain )
Perawat           : selamat pagi bapak S, Mas.A ingin berkenalan dengan bapak, apakah boleh.?
Bpk S              : Pagi sus, oh’ sangat boleh mas silahkan..
Perawat           : nah, sekarang Mas.A silahkan berkenalan dengan bapak S seperti yang telah
                          kita lakukan.
Pasien              :baik sus. (sambil mendemonstrasikan cara nerkenalan pada bapak S)

Terminasi
Perawat           : bagaimana perasaan Mas.A setelah berkenalan dengan bapak S.?
Pasien              :saya lebih percaya diri untuk berbicara sama orang lain sus dan itu
                         membuat saya sangat senang sus.
Perawat           : bagus sekali Mas.A, pertahankan apa yang sudah Mas.A lakukan tadi.
 baik mas bisa mas ulang apa yang kita lakukan tadi.?
Pasien              : Iya sus, tadi suster mengajak saya untuk berkenalan dengan bapak S
  (sambil mendemonstrasikan cara berkenalan)
Perawat           : bagus sekali Mas, Mas terlihat lebih percaya diri sekarang. Nah berhubung
waktu kita telah selesai, saya akan membuat jadwal tambahan harian lagi   untuk di isi lagi ya mas. Jadi pertemuan kita hari ini telah selesai, bila mas
ingin berbincang-bincang lagi dengan saya, silahkan hubungi saya. Selamat pagi.
Pasien                : iya suster, semalat pagi juga dan terima kasih.



SP 1 KELUARGA ISOLASI SOSIAL
Tahap Orientasi
Perawat     : Selamat pagi pak H. Perkenalkan saya perawat Ana, saya yang merawat   ponakan bapak
Kl.pasien       : ow, iya suster
Perawat         : bagaimana perasaan bapak hari ini dan bagaimana keadaan mas A?
Kl. Pasien      : baik sus
Perawat       : baik selama 3 hari kedepan, kita akan berbincang-bincang mengenai masalah   isolasi sosial, penyebab dan cara merawat mas A. waktu yang dibutuhkan yaitu 15 menit ya pak, bapak mau tempatnya disini atau dimana.?
Kl.pasien        : hmm, disini saja suster
Tahap kerja
Perawat        : baik pak, masalah yang dialami oleh mas A disebut isolasi sosial. Ini adalah salah satu gejala penyakit yang juga dialami pasien-pasien gangguan jiwa yang lain. Tanda –tandanya, antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung diri dan kalaupun bicara hanya sebentar. Biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman mengecewakan ketika berhubungan dengan orang lain. Untuk menghadapi keadaan yang demikian bapak H dan anggota keluarga harus sabar menghadapinya.berilah pujian yang wajar dan mencela kondisi mas A. Selanjutnya jangan biarkan mas A sendiri. Buatlah kegiatan yang bisa dilakukan bersama dan rekreasi bersama
Perawat             : nah bagaiman kalau sekarang kita latihan untuk melakukan semua cara itu.? Begini contoh komunikasinya pak, “A, bapak lihat sekarang kamu sudah bisa bercakap-cakap dengan orang lain. Perbincangannya juga lumayan lama. Bapak senang sekali melihat perkembanganmu. Nah sekarang bapak coba peragakan kembali apa yang ttelah saya ajarkan.
Kl.pasien           : baik sus (sambil mendemonstrasikan)
Perawat             : bagus sekali pak, bapak sudah lakukan dengan baik.
Tahap terminasi
Perawat             : bagaimana perasaan bapak, setelah mencoba berlatih berbincang bersama ponakan mas.?
Kl.Pasien        : wah, senang sus,, saya ingin segera mencoba pada ponakan saya.
Perawat       : bagus sekali pak, bapak berhubung waktu kita telah habis jadi kita akhiri pertemuannya ya pak tetapi sebelum itu, besok kita akan bertemu lagi. Bapak mau di tempat ini dengan jam yang sama atau mungkin jadwal lain.?
Kl.Pasien        : Hmmm, di tempat ini saja sus, jam 09.00 pagi ya sus.
Perawat          : oke baik bapak, sekian dan selamat pagi
Kl.pasien        : terima kasih sus.
                         

SP 2 KELUARGA ISOLASI SOSIAL
Tahap Orientasi
Perawat          : selamat pagi pak.
Kl.pasien        : pagi suster
Perawat          : bagaimana perasaan bapak hari ini?
Kl.pasien        : baik suster.
Perawat          : bapak masih ingat latihan merawat anak bapak seperti yang kita pelajari beberapa hari  yang lalu???
Kl.pasien       : iya, saya masih ingat sust.
Perawat          : mari praktekan langsung kepada anak bapak. Bapak punya waktu brapa menit??
Kl.pasien       : 30 menit sust.
Perawat         : baik, kita akan coba latihan selama 30 menit.  Sekarang mari kita temui anak bapak.
Tahap Kerja
Perawat        : selamat pagi S, bagaimana perasaan S hari ini ?
Pasien          : pagi, baik sus.
Perawat        : bapak S dating membesuk, beri salam!
Pasien          : selamat pagi ayah.
Perawat       : bagus S, tolong S tunjukan jadwal kegiatannya?
Pasien          : ini sus
Perawat       : Nah pak, sekarang bapak dapat mempraktekan apa yang sudah kita latihan beberapa hari yang lalu.
Perawat       : Bagaimana perasaan S setelah berbincang-bincang dengan ayah S?
Pasien         : perasaan saya senang sust
Perawat       : baiklah, sekarang saya dan orang tua S  mau pergi ke ruang perawat dulu.
Pasien         : iya sust.
Terminasi
Perawat      : bagaimana perasaan bapak setelah kita latihan tadi?  Bapak sudah bagus melakukannya.
Kl.pasien    : saya senang sust bias berbincang-bincang dengan anak saya, meskipun hanya
                     Sebentar.
Perawat      : mulai sekarang bapak sudah dapat melakukan cara merawat tersebut kepada S. Baiklah bapak, sesuai kontrak waktu kita diawal bahwa kita akan berbincang-bincang selama 30 menit, sekarang sudah pukul 12.30 berarti kontrak waktu kita sudah selesai.3 hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman bapak merawat anak bapak, sesuai dengan apa yang sudah kita pelajari tadi. Waktu dan tempatnya sama seperti sekarang ya??
Kl.pasien : iya sust, disini saja. Jamnya juga sama ya sust.
Perawat   : baik selamat pagi

SP 3 KELUARGA ISOLASI SOSIAL
Tahap Orientasi
Perawat:  selamat pagi pak!!!
Karena besok saudara A sudah boleh pulang, kita perlu untuk membicarakan tentang perawatan       saudara A dirumah.
 Bagaimana kalau kita membicarakan jadwal saudara A disini saja.
Keluarga: oh iya suster, silakan sust.
Perawat  : berapa lama kita dapat berbicara?
                Bagaimana kalau 30 menit? Apakah bapak bisa??
Keluarga: iya sust, saya bersedia.
Tahap Kerja:
Perawat  : Bapak, ini jadwal A selama di rumah sakit. Silakan bapak lihat dulu, apakah bisa nanti  
    dilanjutkan dirumah? Dirumah bapak yang akan menggantikan perawat.
Keluarga : Bisa sust, tetapi bagaimana caranya agar saya bisa melanjutkan kegiatan A selama di rumah.
Perawat   : lanjutkan jadwal ini dirumah baik jadwal kegiatan maupun jadwal minum obatnya. Berikan
pujian kepada A jika yang dilakukan benar. Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan anak bapak selama dirumah. Misalnya, kalau S tidak mau terus-menerus bergaul dengan orang lain, atau menolak minum obat, atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi bapak bisa hubungi saya di puskesmas. “ini no puskesmasnya (0921…)” nanti saya akan dating memantau perkembangan A selama dirumah.
Terminasi:
Perawat   : bagaimana pak ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan A untuk dibawah pulang.
Keluarga  : sudah jelas sust. Ohh iya sust.
Perawat    : ini surat rujukan dari puskesmas pak untuk perawat bila mana nanti bapak membutuhkan
kami. Jangan lupa untuk control ke puskesmas sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Oh iya pak, sebelumnya bapak bisa selesaikan dulu segala administrasinya.
Keluarga : baik sust, trimah kasih ya sust.
Perawat   : sama-sama pak, kalau begitu saya permisi dulu ya pak, selamat siang pak.
Keluarga : siang juga pak.





















DAFTAR PUSTAKA


Yosep I. 2009. Keperawatan Jiwa (edisi revisi). Bandung : PT Refika Aditama
Stuart, GW. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Anna Budi Keliat, SKp. (2000). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sosial Menarik Diri, Jakarta ; Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Nurjanah, Intansari S.Kep. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta : Momedia

Perry, Potter. 2005 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC

Rasmun S. Kep. M 2004. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. Jakarta : CV Sagung Seto