KEPERAWATAN
JIWA II
ASUHAN
KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Dosen
Pengampu : Wahyu Rochdiat M, M.Kep,sp.Kep.J
Disusun
Oleh :
Nama
Kelompok 6 :
1.
Darwin sidete
2.
Serly M. Parera
3.
Alviana Megawati
4.
Nimas A.Rarasati
5.
Muktar
6.
Kk kelas
Kelas
: A.73
PROGRAM
STUDI S1-KEPERAWATAN
FAKULTAS
ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
RESPATI YOGYAKARTA
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Sehat merupakan keadaan
sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomis. Pada masa globalisasi saat ini banyak
tuntutan yang menjadikan stressor dalam kehidupan. Setressor yang dihadapi
seseorang harus diikuti dengan kemampuan koping yang konstruktif, dikarenakan seseorang
yang mengalami kegagalan dalam memberikan koping yang tidak sesuai dengan
tekanan yang dialami, mengakibatkan individu mengalami berbagai macam gangguan
mental, stressor yang sering dijumpai saat ini yaitu kondisi lingkungan sosial
yang semakin keras dan diperberat dengan tingkat kemiskinan yang menekan dapat
menjadi penyebab meningkatnya jumlah masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan
(Yosep, 2007).
Tuntutan hidup yang
semakin tinggi dan kemampuan koping yangtidak konstruktif mengakibatkan angka
kejadian gangguan jiwa tinggi. Saat ini diperkirakan ada 450 juta penderita
gangguan jiwa di seluruh dunia. Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan
Mental Rumah Tangga (SKMRT) 1995 didapatkan prevalensi gangguan jiwa 264 per
1.000
anggota rumah tangga (Musafir, 2010).
Data yang dimuat oleh Wawasan tanggal 13 Oktober 2010 angka kejadian penderita
gangguan jiwa di Jawa Tengah berkisar antara 3.300 orang sampai 9.300 orang.
Angka kejadian ini merupakan penderita yang sudah terdiagnosa (Waluyo, 2010).
Manusia membutuhkan
individu lain untuk dapat menyelesaikan tuntutan-tuntutan hidupnya, sehingga
setiap individu mempunyai potensi untuk terlibat dalam hubungan sosial pada
berbagai tingkat hubungan, yaitu dari hubungan intim sampai dengan hubungan
saling ketergantungan. Keintiman dan saling ketergantungan dalam menghadapidan
mengatasi berbagai kebutuhan setiap hari. Individu tidak akan mampu memenuhi
kebutuhan hidupnya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosial. Oleh karena
itu individu perlu membina hubungan interpersonal yang memuaskan (Stuart, 2007).
Kepuasan hubungan dapat
dicapai jika individu terlibat secara aktif dalam proses berhubungan. Peran
serta yang tinggi dalam berhubungan serta respon lingkungan yang positif akan
meningkatkan rasa memiliki, kerja sama, hubungan timbal balik yang sinkron. Peran serta dalam proses hubungan
dapat berfluktuasi sepanjang rentang tergantung dan artinya suatu saat individu
tergantung pada orang lain dan suatu saat orang lain tergantung pada individu
(Stuart &Sundeen, 1998).
Seseorang apabila tidak
dapat menyesuaikan diri atau mempertahankan diri serta tidak dapat membina
hubungan interpersonal yang memuaskan akibat tuntutan hidup yang tinggi maka
dia dapat mengalami gangguan jiwa, gejala gangguan jiwa yang mencakup mulai dari
gangguan kecemasan, depresi, panik, harga diri rendah, isolasi sosial hingga
gangguan jiwa yang berat yaitu tindakan bunuh diri.
Salah satu gangguan
jiwa yang ditemukan di masyarakat adalah isolasi sosial: menarik diri. Menarik
diri adalah suatu keadaan seseorang yang kesulitan berinteraksi dengan orang
lain secara langsung bersifat sementara atau menetap. Menarik diri merupakan
percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan
dengan orang lain (Rawlins, 1993).
B. TUJUAN
a. Tujuan umum
setelah menyusun makalah ini diharapkan
mahasiswa dapat memahami dan mengerti
tentang isolasi sosial dan strategi pelaksanaan isolasi sosial.
b. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa
mampu mengetahui definisi isolasi sosial
b. Mahasiswa
mampu mengetahui tanda dan gejala isolasi sosial
c. Mahasiswa
mampu mengetahui rentang respon sosial
d. Mahasiswa
mampu mengetahui faktor predisposisi isolasi sosial
e. Mahasiswa
mampu mengetahui faktor presiptasi isolasi sosial
f. Mahasiswa
mampu mengetahui strategi pelaksanaan isolasi sosial
BAB
II
DASAR
TEORI
A. DEFINISI
Isolasi sosial adalah suatu pengalaman
menyendiri dari seseorang dan perasaan segan terhadap orang lain sebagai
sesuatu yang negatif atau keadaan yang mengancam (Nanda,2008).
Isolasi sosial merupakan usaha
menghindar dari interaksi dan berhibungan dengan orang lain, individu merasa
kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir,
berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan (Rawlin,1988).
Isolasi sosial merupakan seseorang
dengan perilaku menarik diri dan akan menghindari interaksi dengan orang lain.
Individu merasa bahwa ia kehilangna hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan, ia
mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain dengan
dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan
orang lain (DepKes,1998).
B. TANDA
DAN GEJALA
Ø Gejala
Subjektif
- Klien
menceriterakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain
- Klien
merasa tidak aman berada dengan orang lain
- Klien
mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain
- Klien
merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
- Klien
merasa tidak berguna
- Respon
verbal kurang dan sangat singkat
- Klien
tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
- Klien
tidak yakin dapat melangsungakan hidup
- Klien
merasa ditolak oleh orang lain
Ø Gejala
Objektif
- Klien
banyak diam dan tidak mau berbicara
- Banyak
berdiam diri di kamar dan tidak mengikuti kegiatan
- Klien
tidak mau berinteksi dengan orang lain
- Klien
tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal
- Kontak
mata kurang
- Kurang
spontan
- Apatis
(acuh terhadap lingkungan)
- Tidak
atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
- Mengisolasi
diri
- Aktivtas
menurun
- Kurang
energy (tenaga)
- Rendah
diri
- Retensi
urin dan feses
(Iyus,2009)
C. RENTANG
RESPON SOSIAL
Hubungan
interpersonal individu dapt di interpretasikan dalam rentang
adaptif-maladaptif, dimana dalam kondisi adaptif seseorang memiliki hubungan
yang sehat dengan menunjukan interaksi yang interdependen sedangkan kondisi
maladaptif ditunjukan dengan tidak adanya kontak dengan orang lain. Menurut
Stuart Sundeen rentang respon klien ditinjau dari interaksinya dengan
lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang terbentang antara respons
adaptif dengan maladaptif sebagai berikut :
Respon Adaptif
Respon Maladaptif
1. Solitude 1.
Loneliness
1. Menarik diri
2. Autonomy 2. Dependence 2. ketergantungan
3. Mutuality 3. Curiga 3. Manipulasi
4. Interdependence
4. Curiga
a. Respon
Adaptif
Yaitu respon individu
dalam penyesuaian masalah yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan
kebudayaan, meliputi :
1. Solitude
(menyendiri)
Merupakan
respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di
lingkungan sosialnya, dan merupakan suatu cara mengevaluasi diri untuk
menentukan langkah-langkah selanjutnya
2. Autonomy (kebebasan)
Respon
individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran dan perasaan dalam
hubungan sosial
3. Mutuality
Respon
individu dalam berhubungan interpersonal dimana individu saling memberi dan
menerima.
4. Interdependence
(saling ketergantungan)
Respon
individu dimana terdapat saling ketergantungan dalam melakukan hubungan
interpersonal
b. Respon
antara adaptif dan maladaptif
1. Loneliness
(kesepian)
Dimana
individu mulai merasa kesepian, terkucilkan dan tersisihkan dari lingkungan
2. Dependence
(ketergantungan)
Individu
mulai tergantung kepada indivdu yang lain dan mulai tidak memperhatikan
kemampuan yang dimilikinya
3. Curiga
Seseorang
gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.
c. Respon
Maladaptif
Yaitu respon individu
dalam penyelesaian masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya
lingkungannya.
1. Menarik
diri
Seseorang
yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang
lain
2. Ketergantungan
Seseorang
gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain
3. Manipulasi
Seseorang
yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat membina
hubungan sosial secara mendalam.
4. Curiga
Seseorang
gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.
D. FAKTOR
PREDISPOSISI
Faktor
predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan
yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain,
ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain,
menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan merasa
tertekan. (Stuart and Sundeen, 1995).
1. Teori
Biologikal dan hubungannya dengan menarik diri
a. Genetik
Transmisi gangguan alam
perasaan yang membuat perasaan sedih dan individu merasa tak pantasberada
ditengah lingkungan sosialnya. Keadaan ini diteruskan melalui garis
keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar monozigot
dibanding dizigot walaupun diasuh secara terpisah.
b. Neurotransmitter
Katekolamin : Penurunan
relatif dari katekolamin otak atau aktifitas sistem katekolamin menyebabkan timbulnya
depresi dan berusaha menghindari lingkungan sosial. Asetilkolin : Suatu
peningkatan aktifitas kolinergik dapat menjadi faktor penyebab dan berusaha menghindari
lingkungan sosial. Serotonin : Suatu defisit pada sistem serotoninergik dapat
merupakan faktor penyebab dari depresi dan berusaha menghindari lingkungan
sosial.
c. Endokrin
Keadaan sedih berkaitan
dengan gannguan hormon seperti pada hipotiroidisme dan hipertirodisme,terapi
estrogen eksogen, dan post partum.
2. Teori
Psikologikal dan hubungannya dengan menarik diri
Uraian teori psikologikal dan
hubungannya dengan menarik diri yang dipaparkan disini lebih spesifik berdasarkan
Teori Perkembangan Erik H. Erikson. Menurut Erikson, dalam menuju
maturasi psikososial, manusia perlu menjalankan 8 tugas perkembangan
(development task) sesuai dengan proses perkembangan usia. Faktor stimulasi
menjadi sangat penting melalui proses belajar menuju maturasi.Untuk
mengembangkan hubungan social yang positif, setiap tugas perkembangan sepanjang
daur kehidupan diharapkan dilalui dengan sukses sehingga kemampuan
membina hubungan social dapat menghasilkan kepuasan bagi individu.
Sebaliknya tugas perkembangan yang tidak dijalankan dengan baik memberikan
implikasi masalah psikososial di kemudian hari, yaitu:
a. Masa
bayi/anak usia 0 –1,5 tahun (konflik basic trust vs mistrust)
Bayi
sangat bergantung pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhan biologis dan
psikologisnya. Bayi biasanya berkomunikasi untuk dipenuhi kebutuhannya dengan
menangis. Kesediaan ibu secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan makan, rasa
aman, rasa nyaman dan kehangatan akanberimplikasi pada pemebntukan rasa percaya
pada diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Kegagalan ibu dalam memenuhi
kebutuhannya akan berimplikasi pada rasa tidak percaya pada diri sendiri,
oranglain, lingkungannya dan perilaku menarik diri.
b. Masa
anak usia 1,5 –3 tahun (Conflik otonomy vs shame and doubt).
Pada
rentang usia ini, anak mulai menyadari dirinya terpisah dengan orang lain
(memiliki otonomi). Anak akan mulai berkreasi dalam kebebasan dirinya seperti
berlari-lari, memegang segala sesuatu yang disukainya, dapat mengendalikan
organ-organ tubuhnya dan dapat menyatakan menolak atau menerima sesuatu
dari orang lain. Otonomi anak yang berkembang pada tahap ini menuju pada membina
hubungan dengan orang lain secara interdependent. Kegagalan anak dalam membina hubungan
dengan lingkungannya dan keluarga cenderung membatasi kebebasannya atas dasar pertimbangan
yang negatif terhadap lingkungannya (over protective) berimplikasi pada
kepribadiananak yang pemalu dan peragu. Pada kondisi lebih lanjut mengakibatkan
individu menarik diri dari orang lain dan lingkungannya.
c. Masa
anak usia 3 –6 tahun (Conflik initiative vs guilt)
Pada
usia ini semakin berkembang rasa inisitatif anak. Anak mulai banyak bertanya
secara kritis dan mencoba melakukan tugas tertentu. Inisiatif yang ditunjukkan
misalnya mandi sendiri, membereskan sendiri permainannya, membantu adiknya dan
sebagainya. Pada usia ini, anak mulai menghadapi tuntutan normative dari
lingkungannya. Hal ini dapat menimbulkan krisis pada anak sehingga akan mengalami
kekecewaaan yang selanjutnya menuju pada rasa bersalah yang berlebihan.
Sebaliknya jika lingkungannya kondusif maka berimplikasi pada pembentukan
kepribadian anak yang berinisiatif. Perilaku yang menunjukkan rasa
bersalah yaitu, takut memulai pekerjaan yang baru, meminta
maaf secara berlebihan dan menjadi sangat malu hanya karena kesalahan
kecil. Pada kondisi lebih lanjut dapat menimbulkan menarik diri.
d. Masa
anak usia 6 –12 tahun (Conflik industry vs inferiority)
Pada
usia ini, anak mulai terdorong untuk melaksanakan tugas-tugas yang dihadapinya
secara sempurna dan menghasilkan karya-karya tertentu. Pada usia ini anak mulai
bersekolah dan memulai menyesuaikan diri dengan aturan-aturan baru di
lingkungan sekolah dan keluarga. Dengan bersekolah, anak memulai mengembangkan
hubungan interpersonal dengan kelompoknya terutama dengan yang berjeniskelamin
sama. Anak mulai mampu menukar kemampuannya, merasakan kegunaannya dan berkesempatan
membandingkan dirinya dengan teman sebayanya. Orang tua tidak lagi menjadi satu-satunya
sumber identifikasi anak. Anak mulai melihat dan mengagumi orang lain selain
orang tua dan temannya. Figur guru sangat menjadi panutan bagi anak sehingga
sering kali anak menjadi lebih percayapada gurunya daripada orang tuanya. Oleh
karena itu orang tua dan guru haruslah menjadi figure yangseimbang untuk
ditiru anak. Apabila lingkungan (orang tua dan guru) tidak menghargai hasil
karya atau usaha anak maka anak akan mengalami ketidakpuasan dalam bekerja dan
diliputi perasaan kurang, tidakmampu dan inferior yang ditunjukkan dengan
perilaku : Tidak biasa bekerja sama dengan orang lain, tidak mampu mengerjakan
tugas dengan tuntas dan tidak mampu mengatur tugas atau pekerjaan. Pada kondisi
lebih lanjut mengakibatkan menarik diri.
e. Masa
usia 12–20 tahun (Conflik identity vs role confusion)
Merupakan
usia peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa, yang sering disebut pubertas. Perubahan
fisik dan kejiwaan terjadi begitu pesat sehingga dapat mengganggu keseimbangan
diri yang sebelumnya sudah tercapai. Secara biologis kemampuan anak sama dengan
orang dewasa, namun secara psikosial dianggap masih labil. Mereka dianggap
tidak pantas berperilaku seperti anak-anak tetapi lingkungan juga tidak
mengakui mereka sebagai orang dewasa. Pada usia ini, remaja mulai menunjukkan
identitas dirinya, baik dalam seksual, umur dan pekerjaan. Kelompok teman
sebaya menjadi sangat penting bagi remaja. Melalui teman sebaya, remaja dapat
mengeksprersikan perasaan, pikiran, memainkan perandan bereksperimen dengan
peran. Dalam kelompok inilah remaja mendapat pengakuan dan merima keberadaannya.
Sikap orang tua yang terbuka, mengembangkan komunikasi yang akrab, menghargai pendapat
dan pikiran remaja, memberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri sebagai
sahabat bagi remaja akan sangat membantu remaja dalam memperoleh identitas
dirinya. Sikap orang tua dan lingkungan yang tidak mendukung ke arah remaja
menemukan identitas dirinya dengan selalau saling bertentangan akan menimbulkan
kegagalan perkembangan yaitu terjadi kebingungan peran yang ditunjukkan dengan
perilaku tidak mempunyai tujuan hidup yang pasti, tidak mampu
bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan mengadopsi nilai-nilai
orang lain tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu. Pada kondisi lebih
lanjut mengakibatkan menarik diri.
f. Masa usia 20 –40 tahun (Conflik intimacy
vs isolation)
Tahap
ini merupakan tahap perkembangan dewasa awal. Individu mulai bekerja dan
meningkatkan hubungan yang khusus dengan lawan jenisnya. Usia ini dapat juga
dikatakan sebagai karier dan berumahtangga. Pada usia ini individu biasanya
juga sudah terlepas dari orang tuanya sehingga kegagalan maupun kesuksesan
dalam tahap perkembangan ini lebih banyak ditentukan oleh dirinya
sendiri dan pasangan hidupnya daripada orang tuanya. Kegagalan
dalam memenuhi perkembangan pada tahap ini mengakibatkan individu merasa
terisolasi dan menarik diri.
g. Masa
usia 40 –60 tahun (Conflik generativity vs stagnation)
Usia
40 –60 tahun merupakan usia ketika seseorang mengalami titik
karier puncak. Pada usia ini, individu akan menghasilkan sesuatu yang
dapat ditawarkan kepada keturunannya. Dapat berupa tulisan, ide atau
pikiran. Individu pada tahap perkembangan ini akan banyak memberikan nasihat
dan pengarahan. Kegagalan pada tahap perkembangan ini berakibat individu
mengalami stagnasi dimana individu lebih banyak menceritakan dirinya sendiri
daripada mendengarkan orang lain. Implikasinya terhadap perkembangan
psikososial dimana individu akan dijauhi dan menjauhkan diri dari orang lain dan
lingkungannya yang disebut dengan menarik diri.
h. Masa
usia 65 tahun keatas.
Masa
ini, individu akan mengalami masa kepuasan dan ketidakpuasan dalam kehidupannya.
Bila dalam tahap perkembangan sebelumnya individu mengalami kepuasan dan
siap mengalami penurunan fungsi hidupnya bahkan kematian. Hal ini disebut
dengan individu telah mencapai integritas diri. Kegagalan pada usia ini,
mengakibatkan individu akan mengalami keputusasaan hidup atau despair dengan berperilaku
menangis dan apatis, sulit menerima perubahan dan sangat bergantung pada orang
lain(tidak mandiri). Jika tidak mendapatkan perhatian
mengakibatkan individu menarik diri dari orang laindan lingkungan.
3. Teori
sosiokultural dan hubungannya dengan menarik diri
Menurut
Kartini Kartono (1999, dikutip oleh Sunaryo, 2004) menyebutkan bahwa timbulnya
gangguanmental/gangguan jiwa ditinjau dari factor
sosial-budaya/sisio-kultural sebagai berikut:
a. Konflik
dengan standar social dan norma etis
Gangguan
mental dapat terjadi karena individu tidak mampu berperilaku sesuai dengan
standar sosial dan norma etik yang berlaku sehingga dalam kehidupan sosial akan
terjadi benturan dengan masyarakatyang menganut standar sosial dan norma etik
tertentu. Prinsip ini erat kaitannya dengan stress adaptasi yang menurut
menyebutkan bahwa stress disebabkan oleh perubahan-perubahan diantaranya
perubahan nilai budaya, perubahan system kemasyarakatan dan pekerjaan yang
mengakibatkan gangguan keseimbangan mental-emosional karena gangguan
produktivitas dan kehidupan seseorang menjadi tidak efisien. Kondisi ini
berpengaruh terhadap respons menarik diri seseorang. (Suliswati, dkk. 2005)
b. Overproteksi
orang tua
Akibat
dari overproteksi atau perlindungan orang tua yang berlebihan terhadap anak
mengakibatkan anak menjadi tidak mandiri, tidak percaya diri, tidak memiliki
harga diri, ragu-ragu dan tidak memiliki kreativitas dan inisiatif. Dengan
demikian mentalitas anak menjadi rapuh sehingga dapat diasumsikan bahwa
lama kelamaan individu akan menarik diri dari orang lain dan
lingkungan.
c. Anak
yang ditolak/tidak diterima dalam kelahirannya (rejected child)
Sering
terjadi pada pasangan suami-isteri yang belum dewasa secara psikis
sehingga pada saat hamil dan melahirkan cenderung menolak atau tidak mau
bertanggung jawab sebagai ayah dan ibu yang baik(tidak cukup memberikan kasih
saying). Hal ini dapat membentuk pribadi anak yang labil, mentalitas yang rapuh
karena tidak percaya diri, tidak meiliki harga diri dan curiga sehingga
dapat menimbulkan menarik diri dari hubungan social.
d. Kondisi
broken home
Keluarga
yang broken home mengakibatkan anak mengalami kesulitan beradaptasi dengan
lingkungan,hati yang kacau, bingung, sedih, hidup terombang-ambing antara kasih
sayang dan kekecewaanterhadap orang tua. Selanjutnya anak menjadi mudah
tersinggung, kesedihan yang berlebihan, putus asa, merasa terhina dan merasa
berdosa. Perilaku anak akan menyimpang dari norma sosial sepertiagresif,
sadistic, kriminal dan psikopatis. Kondisi ini mengakibatkan individu
dijauhi atau menjauhkan diri dari orang lain dan lingkungan sosial.
e. Konflik
budaya
Pertemuan
budaya antara daerah atau suku bangsa yang satu dengan lainnya membutuhkan
saling pengertian dan adaptasi sosial. Apabila terjadi konflik budaya dapat
menimbulkan kecemasan, ketakutan dan kehidupan perasaan semakin datar, dingin
dan beku. Yang terjadi adalah perilaku yang menyimpang seperti tindakan
kejahatan, kekalutan bathin dan stress psikososial. Kesemuan yaitu akan membawa
individu pada kondisi menarik diri dari hubungan social.
f. Lingkungan
sekolah yang tidak kondusif
Lingkungan
sekolah yang tidak kondusif seperti temperamen guru yang kejam, aktivitas
peserta didik yang tertekan, bangunan tidak memenuhi syarat, tidak
memiliki tempat rekreasi, dan sebagainya berimplikasi terhadap gangguan emosi
anak serta konflik yang menjurus pada gangguan psikososial. Anak
menjadi minder, tidak ada kebanggaan diri dan menurunnya kreatifitas sehingga
berdampak padaharga diri yang rendah sehingga mengakibatkan menarik diri
dari hubungan sosialnya.
g. Cacat
jasmaniah
Anak
yang cacat jasmani cenderung merasa malu, minder, dibayangi ketakutan,
keragu-raguan akanmasa depannya sehingga menimbulkan harga diri rendah yang
menjurus pada menarik diri.
h. Motif
kemewahan materi/financial
Dewasa
ini orang berlomba-lomba untuk memperoleh kemewahan material/finansial.
Kebahagiaan hidup diukur dari suksesnya sesorang menduduki jabatan tinggi,
status social dan sukses finasial. Keadaan seperti ini menggiring orang
untuk melakukan penyimpangan atau mendapatkan materi dengan cara yang tidak
halal. Orang menjadi gelisah dan cemas karena bertentangan dengan
nilai-nilai agama yang dianutnya. Atau pada kondisi lain, pendapatan kecil
tetapi ambisinya besar untuk sukses finansial, akibatnya timbul ketegangan
batin dan ketakutan. Karena ukuran hidupnya/harga dirinyaadalah sukses
finansial, sementara kenyataannya tidak sesuai dengan harapan maka
individu merasa rendah diri atau martabatnya menurun. Akibatnya menjauhkan diri
dari hubungan social dan lingkungan.
E. FAKTOR
PRESIPITASI
Faktor
presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga
danberpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan
orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak
berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar
dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and Sundeen, 1995).
1. Faktor
Nature (alamiah)
Secara
alamiah, manusia merupakan makhluk holistic yang terdiri dari dimensi
bio-psiko-sosial danspiritual (Dadang Hawari, 2002). Oleh karena itu meskipun
stressor presipitasi yang sama tetapi apakahberdampak pada gangguan
jiwa atau kondisi psikososial tertentu yang maladaptive dari individu,
sangatbergantung pada ketahanan holistic individu tersebut (W.F. Maramis,
1998).
2. Faktor
Origin (sumber presipitasi)
Demikian
juga dengan faktor sumber presipitasi, baik internal maupun eksternal yang
berdampak pada psikososial seseorang. Hal ini karena manusia bersifat
unik.
3. Faktor Timing
Setiap
stressor yang berdampak pada trauma psikologis seseorang yang berimplikasi pada
gangguan jiwa sangat ditentukan oleh kapan terjadinya stressor, berapa
lama dan frekuensi stressor (PPDGJ-III,2000).
4. Faktor
Number (Banyaknya stressor)
Demikian
juga dengan stressor yang berimplikasi pada kondisi gangguan jiwa sangat
ditentukan oleh banyaknya stressor pada kurun waktu tertentu. Misalnya, baru
saja suami meninggal, seminggu kemudian anak mengalami cacad permanen karena
kecelakaan lalu lintas, lalu sebulan kemudian ibukena PHK dari tempat kerjanya
(Luh Ketut Suryani, 2005).
BAB
III
PEMBAHASAN
Kasus
Tn. A berusia 23 tahun dirawat di RSJ Respati
selama 2 hari dari hasil pengkajian pasien terlihat menyendiri, menolak
berbicara sama pasien lain maupun perawat, Tn.A mengatakan bahwa ia merasa malu
untuk berkenalan, ia takut ditolak oleh orang lain. Ketika diajak berbicara
sama perawat Tn.A mengatakan semasa kecilnya, kedua orang tuanya sering
bertengkar dan pasien selalu menjadi pelampiasan kemarahan kedua orang tuanya
dan mereka memutuskan untuk bercerai. Pada saat Tn.A berusia 15 tahun klien
tinggal bersama dengan paman dan bibinya. Namun akibat pertengkaran kedua orang
tuannya membuat pasien merasa trauma untuk bergaul sama orang lain. Tn.A lebih
nyaman menyendiri daripada berinteraksi sama orang lain.
SP 1 PASIEN ISOLASI
SOSIAL
Tahap
orientasi
Perawat
: Selamat pagi Tn.A, Perkenalkan saya perawat
N yang akan mendampingi Tn.A saya
bertugas dari pukul 7 pagi – pukul 2 siang. Boleh saya duduk Tn.A.?
Pasien : Iya boleh.
Perawat : Tn.A senang dipanggil dengan sebutan apa.?
Pasien
: Panggil saya mas A saja sus.
Perawat : bagaimana kabar Tn.A pagi ini?
Pasien :
hmmm, kurang baik, saya merasa
sedih dan ingin menyendiri
Perawat
:
bisa mas ceritakan mengapa mas merasa sedih dan ingin menyendiri.?
Pasien : hmm
(menggelengkan kepala).
Perawat :
Oke
kalau begitu Mas.A , saya ingin berbincang – bincang mengenai masalah Mas.A,
mas mau tempatnya disini atau dimana.?
Pasien : hmm, disini saja sus.
Perawat :
Baiklah
Mas.A kita nanti akan berbincang – bincang mengenai masalah yang sedang Mas.A
hadapi waktunya nanti kurang lebih 15 menit kedepan.
Pasien : Baik sus, disini saja.
Tahap
Kerja
Perawat : Baiklah Mas.A kalo
boleh saya tahu , mas biasanya lebih suka ngobrol dengan siapa.?
Pasien : Saya
tinggal bersama paman dan bibi saya, saya baru bisa mengobrol dengan mereka
pada saat mereka berada di rumah, tapi saya lebih suka berada di kamar.
Perawat : Apakah
mas tidak memiliki teman dekat untuk mengobrol.?
Pasien
: Saya tidak memiliki teman dekat, saya tidak
berani untuk berbincang –bincang
terlalu
banyak kepada mereka dan saya malas untuk keluar.
Perawat : Kalau
boleh saya tahu, mengapa mas A lebih suka menyendiri di kamar.?
Pasien : Ya
karena saya malas mengobrol sama orang.
Perawat
: Iya Mas.A saya mengerti menurut Mas.A apa yang menghambat anda berteman atau bercakap – cakap ?
Pasien :Saya tidak berani
mengajak berkenalan kalo mereka tidak terlebih dahulu memperkenalkan dirinya
jadi saya hanya memiliki sedikit teman.saya lebih nyaman sendiri.Saya terlalu
gugup dan tidak tau mau mengobrol apa dengan mereka.
Perawat : Iya saya mengerti Mas.A
menurut Mas.A manfaat apa saja yang kita
peroleh kalo memiliki teman ?
Pasien : Keuntungan kita
sebenarnya tidak merasakan kesepian,bisa bermain game bersama.
Perawat :Bagus Mas.A bisa disebutkan yang lainnya?
Pasien :Ada yang menolong kita saat memiliki masalah.
Perawat :Bagus Mas,anda bisa menyebutkan beberapa
maanfaat memiliki teman kemudian apa kerugian kita tidak mempunyai teman?
Pasien :Kerugianya, apa – apa saya bisa melakukan
sendiri di saat ulang tahun tidak ada yang ikut merayakan , saya hanya kesepian
di rumah, disaat saya sakit tidak ada yang menjenguk.
Perawat :Wah ternyata banyak juga kerugianya ya Mas.A kalo kita tidak
memiliki teman nah sekarang bagaimana kalo kita belajar berkenalan dengan orang
lain.
Pasien :tiiitidak saya tidak berani.
Perawat :Tidak apa-apa Mas.A saya ada disini yang
akan mendampingi Mas.A untuk
menghilangkan rasa takut anda, bagaimana kalau kita mencoba.?
Pasien :Baiklah sus,akan saya coba.
Perawat :Begini Mas.A untuk berkenalan dengan orang
lain kita sebutkan nama kita dulu,
nama
yang anda sukai kemudian bisa sebutkan daerah asal Mas.A contohnya
:perkenalkan nama saya Nimas Anis
Rarasati, saya lebih suka di panggil Nimas, saya dari Jogjakarta. Ayo Mas.A kita peragakan bersama-sama
Pasien :
selamat pagi, Perkenalkan nama saya Mas.A , saya lebih
suka dipanggil Mas.A daerah asal saya dari Jogjakarta.
Perawat :Bagus sekali Mas.A setelah berkenalan
dengan orang tersebut Mas.A bisa melanjutkan percakapan yang lain tentang
,hobi, pekerjaan dan sebagainya.
Pasien
:Baik,lah sus,,,saya akan melanjutkan
hobi saya adalah menulis dan saya mahasiswa di salah satu universitas di Jogja.
Perawat :Bagus sekali Mas.A nah tentang cara
berkenalan akan saya maksudkan jadwal harian.sebelumnya ada yang mau di
tanyakan Mas.A
Pasien :Maksudnya dengan jadwal seperti apa sus
bisa di jelaskan?
Perawat :Begini Mas.A semua yg kita lakukan akan
tersusun di jadwal harian Mas.A yang harus dilakukan 3x setiap hari kemudian
jika bapak mengerjakan sendiri maka Tn.A bisa tandai di mandiri, kalo di
lakukan dengan bantuan orang lain makan tandai di damping,selanjutnya jika Mas.A. tidak melakukannya
maka tandai di tidak melakukan.Mengenai soal jam Mas.A bisa menentukan waktunya Tn.A bisa
menentukan sendiri.
Pasien :ow,saya mengerti saya bisa melakukanya
pada jam 7 pagi,1 siang dan jam 5 sore.
Perawat :Baik Mas.A kita tuliskan di jadwal.
Tahap terminasi
Perawat : bagaiamana perasaan Mas.A setelah kita berbincang – bincang ?
Pasien : hmm. Saya merasa mencoba sesuatu hal yang baru.
Perawat : bagus sekali mas,
sekarang mas bisa mempraktekan kembali cara kita berkenalan.?
Pasien :Bisa sus tadi kita melakukan cara
berkenalan pertama – tama dengan memperkenalakan diri kemudian bersalaman
kemudian menanyakan nama setalah itu menyebutkan hobi, pekerjaan dan lain2.
Perawat
: Bagus sekali Mas.A Berhubung waktu sudah habis maka, saya
sudahkan pertemuan ini akan tetapi Mas.A bisa kita bertemu hari apa lagi dan di
mana untuk meneruskan perbincangan kita?
Pasien :Bisa besokk aja di tempat ini dan jam yang
sama.
Perawat :Baik Mas.A jangan lupa bawa bawa jadwalnya
besok ya Mas.A sampai jumpa besok.
Pasien :Baik sus,trimakasih
SP 2 PASIEN ISOLASI
SOSIAL
Orientasi
Perawat : selamat pagi Mas.A, saya dengan
perawat sherly. Masih ingat dengan saya mas.?
Pasien : Oh, Iya suster yang kemarin
kan..
Perawat : Iya mas, jadi selama 10 menit
kedepan saya akan melatih Mas.A untuk
berkenalan dengan
orang lain, baik bapak mau tempatnya disin atau dimana.?
Pasien : Disini saja suster.
Perawat : Oke baik mas.
Tahap Kerja
Perawat : Mas masih mengingat pelajaran kita
tentang berkenalan.?
Coba sebutkan lagi
sambil bersalaman dengan saya.
Pasien : (sambil peragakan cara
berkenalan)
Perawat : Bagus sekali Mas, boleh saya lihat
jadwal latihan mas yang telah ditulis.?
Pasien : Bagus sekalai mas, mas telah
berlatih dan telah mengisinya. nah selanjutnya kita akan mencoba berkenalan dengan teman
perawat saya yang lain, oke mas.?
Pasien : Hmmm, oke suster
Perawat : Selamat pagi suster Mega, Mas.A ingin
berkenalan dengan suster. Baiklah mas, mas bisa langsung berkenalan dengan
perawat Mega seperti yang kita praktekan kemarin.
Pasien : (pasien mendemonstrasikan)
Perawat : ada lagi yang Mas.A ingin tanya
pada suster Mega..??
Pasien : hmmm, sudah sus.
Perawat : Bagus sekali, Mas.A sudah lakukan
dengan benar, jadi saya akan buatkan lagi
jadwal latihan buat bapak untuk diisi di rumah ya Mas.
Tahap Terminasi
Perawat : bagaimana perasaan Mas setelah
berkenalan dengan perawat Mas.?
Pasien :
hmm, kurang begitu menakutkan seperti yang saya pikir
Perawat : bagus sekali Mas, pertahankan terus
ya Mas apa yang sudah dilakukan tadi.
Perawat : Oke Mas, dalam pertemuan
selanjutnya kita akan coba dengan petugas RS
lainnya ya Mas.
Berhubung waktu kita telah selesai jadi pertemuan kita hari
ini sampai disini
dulu. Besok kita akan bertemu ditempat dan jam yang sama
atau gimana Mas.?
Pasien : iya suster, tempatnya disini dan
jam 9 pagi ya sus.
Perawat : ow, oke Mas. Sekian dan selamat
pagi.
SP 3 PASIEN ISOLASI
SOSIAL
Tahap
Orientasi
Perawat : selamat pagi Mas.A, bagaimana kabar
Mas hari ini.?
Pasien : Pagi juga sus, baik suster
Perawat : Mas, masih ingat dengan saya kan.?
Pasien
: iya sus, suster Mega kan?
Perawat : iya Mas, betul sekali, mas mau kita
berbincang bincang disini atau ditempat
Lain mungkin.?
Pasien : hmm, disini saja sus.
Perawat : bagaimana perasaan Mas setelah
berbincang-bincanng dengan
perawat nimas
kemarin.?
Pasien : perasaanku sangat senang sus, dan
merasa terhibur karena sudah punya
teman lagi dan mau
berbincang-bincang dengan saya.
Perawat : bagus sekali Mas, nah seperti janji
kita kemarin, selama 10 menit kedepan
kita akan
mencoba berkenalan dengan tenaga kesehatan yang lainnya.
Tapi
sebelum itu boleh
jadwal harian yang telah mas isi.?
Perawat :wah, bagus sekali mas, mas telah
mencoba untuk berinteraksi dengan
keluarga mas. Baiklah
mari kita mencoba berkenalan dengan tenaga
kesehatan lain, siap
mas.?
Pasien : siap Mas.
Tahap Kerja
(bersama-sama mendekati
tenaga kesehatan lain )
Perawat : selamat pagi bapak S, Mas.A ingin
berkenalan dengan bapak, apakah boleh.?
Bpk S : Pagi sus, oh’ sangat boleh mas
silahkan..
Perawat : nah, sekarang Mas.A silahkan
berkenalan dengan bapak S seperti yang telah
kita lakukan.
Pasien :baik sus. (sambil
mendemonstrasikan cara nerkenalan pada bapak S)
Terminasi
Perawat : bagaimana perasaan Mas.A setelah
berkenalan dengan bapak S.?
Pasien :saya lebih percaya diri untuk
berbicara sama orang lain sus dan itu
membuat saya sangat
senang sus.
Perawat : bagus sekali Mas.A, pertahankan apa
yang sudah Mas.A lakukan tadi.
baik mas bisa mas ulang apa yang kita lakukan tadi.?
baik mas bisa mas ulang apa yang kita lakukan tadi.?
Pasien : Iya sus, tadi suster mengajak
saya untuk berkenalan dengan bapak S
(sambil mendemonstrasikan cara berkenalan)
(sambil mendemonstrasikan cara berkenalan)
Perawat : bagus sekali Mas, Mas terlihat
lebih percaya diri sekarang. Nah berhubung
waktu kita telah selesai, saya akan membuat jadwal tambahan harian lagi untuk di isi lagi ya mas. Jadi pertemuan kita hari ini telah selesai, bila mas
ingin berbincang-bincang lagi dengan saya, silahkan hubungi saya. Selamat pagi.
waktu kita telah selesai, saya akan membuat jadwal tambahan harian lagi untuk di isi lagi ya mas. Jadi pertemuan kita hari ini telah selesai, bila mas
ingin berbincang-bincang lagi dengan saya, silahkan hubungi saya. Selamat pagi.
Pasien :
iya suster, semalat pagi juga dan terima kasih.
SP
1 KELUARGA ISOLASI SOSIAL
Tahap Orientasi
Perawat : Selamat pagi pak H. Perkenalkan saya
perawat Ana, saya yang merawat ponakan bapak
Kl.pasien : ow,
iya suster
Perawat : bagaimana perasaan bapak hari ini dan
bagaimana keadaan mas A?
Kl. Pasien : baik sus
Perawat :
baik selama 3 hari kedepan, kita akan berbincang-bincang mengenai masalah isolasi sosial, penyebab dan cara merawat
mas A. waktu yang dibutuhkan yaitu 15 menit ya pak, bapak mau tempatnya disini
atau dimana.?
Kl.pasien : hmm, disini saja suster
Tahap
kerja
Perawat : baik
pak, masalah yang dialami oleh mas A disebut isolasi sosial. Ini adalah salah
satu gejala penyakit yang juga dialami pasien-pasien gangguan jiwa yang lain.
Tanda –tandanya, antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung
diri dan kalaupun bicara hanya sebentar. Biasanya masalah ini muncul karena
memiliki pengalaman mengecewakan ketika berhubungan dengan orang lain. Untuk
menghadapi keadaan yang demikian bapak H dan anggota keluarga harus sabar
menghadapinya.berilah pujian yang wajar dan mencela kondisi mas A. Selanjutnya
jangan biarkan mas A sendiri. Buatlah kegiatan yang bisa dilakukan bersama dan
rekreasi bersama
Perawat : nah bagaiman kalau sekarang kita
latihan untuk melakukan semua cara itu.? Begini contoh komunikasinya pak, “A,
bapak lihat sekarang kamu sudah bisa bercakap-cakap dengan orang lain.
Perbincangannya juga lumayan lama. Bapak senang sekali melihat perkembanganmu.
Nah sekarang bapak coba peragakan kembali apa yang ttelah saya ajarkan.
Kl.pasien :
baik sus (sambil mendemonstrasikan)
Perawat : bagus sekali pak, bapak sudah lakukan
dengan baik.
Tahap terminasi
Perawat : bagaimana perasaan bapak, setelah
mencoba berlatih berbincang bersama ponakan mas.?
Kl.Pasien : wah, senang sus,, saya ingin segera
mencoba pada ponakan saya.
Perawat : bagus sekali pak, bapak berhubung
waktu kita telah habis jadi kita akhiri pertemuannya ya pak tetapi sebelum itu,
besok kita akan bertemu lagi. Bapak mau di tempat ini dengan jam yang sama atau
mungkin jadwal lain.?
Kl.Pasien : Hmmm, di tempat ini saja sus, jam 09.00
pagi ya sus.
Perawat : oke baik bapak, sekian dan selamat
pagi
Kl.pasien : terima kasih sus.
SP
2 KELUARGA ISOLASI SOSIAL
Tahap
Orientasi
Perawat : selamat pagi pak.
Kl.pasien
: pagi suster
Perawat : bagaimana perasaan bapak hari ini?
Kl.pasien :
baik suster.
Perawat : bapak masih ingat latihan merawat anak
bapak seperti yang kita pelajari beberapa hari
yang lalu???
Kl.pasien :
iya, saya masih ingat sust.
Perawat : mari praktekan langsung kepada anak bapak.
Bapak punya waktu brapa menit??
Kl.pasien : 30 menit sust.
Perawat :
baik, kita akan coba latihan selama 30 menit.
Sekarang mari kita temui anak bapak.
Tahap
Kerja
Perawat :
selamat pagi S, bagaimana perasaan S hari ini ?
Pasien : pagi, baik sus.
Perawat :
bapak S dating membesuk, beri salam!
Pasien : selamat pagi ayah.
Perawat :
bagus S, tolong S tunjukan jadwal kegiatannya?
Pasien : ini sus
Perawat : Nah pak, sekarang bapak dapat
mempraktekan apa yang sudah kita latihan beberapa hari yang lalu.
Perawat : Bagaimana perasaan S setelah
berbincang-bincang dengan ayah S?
Pasien :
perasaan saya senang sust
Perawat :
baiklah, sekarang saya dan orang tua S
mau pergi ke ruang perawat dulu.
Pasien
: iya sust.
Terminasi
Perawat
: bagaimana perasaan bapak
setelah kita latihan tadi? Bapak sudah
bagus melakukannya.
Kl.pasien :
saya senang sust bias berbincang-bincang dengan anak saya, meskipun hanya
Sebentar.
Perawat :
mulai sekarang bapak sudah dapat melakukan cara merawat tersebut kepada S. Baiklah
bapak, sesuai kontrak waktu kita diawal bahwa kita akan berbincang-bincang
selama 30 menit, sekarang sudah pukul 12.30 berarti kontrak waktu kita sudah
selesai.3 hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman bapak
merawat anak bapak, sesuai dengan apa yang sudah kita pelajari tadi. Waktu dan
tempatnya sama seperti sekarang ya??
Kl.pasien
: iya sust, disini saja. Jamnya juga sama ya sust.
Perawat : baik selamat pagi
SP 3 KELUARGA ISOLASI SOSIAL
Tahap
Orientasi
Perawat: selamat pagi pak!!!
Karena besok saudara A sudah boleh pulang, kita
perlu untuk membicarakan tentang perawatan
saudara A dirumah.
Bagaimana
kalau kita membicarakan jadwal saudara A disini saja.
Keluarga:
oh iya suster, silakan sust.
Perawat : berapa lama kita dapat berbicara?
Bagaimana kalau 30 menit? Apakah bapak bisa??
Keluarga:
iya sust, saya bersedia.
Tahap
Kerja:
Perawat : Bapak, ini jadwal A selama di rumah sakit.
Silakan bapak lihat dulu, apakah bisa nanti
dilanjutkan dirumah? Dirumah bapak yang akan menggantikan perawat.
Keluarga
: Bisa sust, tetapi bagaimana caranya agar saya bisa melanjutkan kegiatan A
selama di rumah.
Perawat : lanjutkan jadwal ini dirumah baik jadwal
kegiatan maupun jadwal minum obatnya. Berikan
pujian kepada A jika yang dilakukan benar. Hal-hal
yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan anak
bapak selama dirumah. Misalnya, kalau S tidak mau terus-menerus bergaul dengan
orang lain, atau menolak minum obat, atau memperlihatkan perilaku membahayakan
orang lain. Jika hal ini terjadi bapak bisa hubungi saya di puskesmas. “ini no
puskesmasnya (0921…)” nanti saya akan dating memantau perkembangan A selama
dirumah.
Terminasi:
Perawat : bagaimana pak ada yang belum jelas? Ini
jadwal kegiatan A untuk dibawah pulang.
Keluarga : sudah jelas sust. Ohh iya sust.
Perawat : ini surat rujukan dari puskesmas pak
untuk perawat bila mana nanti bapak membutuhkan
kami. Jangan lupa untuk control ke puskesmas sebelum
obat habis atau ada gejala yang tampak. Oh iya pak, sebelumnya bapak bisa
selesaikan dulu segala administrasinya.
Keluarga
: baik sust, trimah kasih ya sust.
Perawat : sama-sama pak, kalau begitu saya permisi
dulu ya pak, selamat siang pak.
Keluarga
: siang juga pak.
DAFTAR
PUSTAKA
Yosep
I. 2009. Keperawatan Jiwa (edisi revisi). Bandung : PT Refika Aditama
Stuart,
GW. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Anna
Budi Keliat, SKp. (2000). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sosial Menarik
Diri, Jakarta ; Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Nurjanah, Intansari S.Kep. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta : Momedia
Perry, Potter. 2005 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC
Rasmun S. Kep. M 2004. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. Jakarta : CV Sagung Seto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar